Senin, 06 Mei 2019 05:30 WITA

Menggaruk Saat Salat, Ini Batasannya Agar Tidak Batal

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Menggaruk Saat Salat, Ini Batasannya Agar Tidak Batal
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Salat mensyaratkan kekusyukan dan ketenangan. Banyak bergerak dapat membuat salat menjadi batal.

Sebisa mungkin, seseorang berusaha untuk tidak banyak bergerak. Bahkan jika bisa hanya melakukan gerakan sesuai rakaat, tanpa ada yang lainnya.

Tetapi, dapat dipahami ada kondisi tertentu yang membuat seseorang terpaksa melakukan gerakan di luar salat. Contoh paling sering adalah menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal.

Gerakan menggaruk dalam boleh dilakukan. Namun begitu, perlu diperhatikan ketentuannya agar tidak membatalkan salat.

Dilansir laman Dream, para ulama Mazhab Syafi'i memberikan batasan gerakan tidak membatalkan salat jika dilakukan kurang dari tiga kali. Lebih dari itu, gerakan dianggap membatalkan salat

Berbeda kondisinya jika ada tiga gerakan dilakukan secara terpisah dan terpaut jeda cukup lama. Jika gerakan pertama terpaut jeda begitu lama dengan gerakan ke dua, maka gerakan pertama tidak dihitung.

Imam An Nawawi dalam kitab Raudhah At Thalibin wa 'Umdah Al Muftin dengan mengutip pendapat Imam Al Baghawi menjelaskan demikian.

" Batasan suatu gerakan dianggap terpisah adalah saat gerakan kedua dianggap terputus dari gerakan pertama. Imam Al Baghawi berkata dalam kitab At Tahdzib, 'Menurutku (dua gerakan dianggap terputus itu) sekiranya di antara kedua gerakan berjarak sekitar satu rakaat'."

Gerakan Menggaruk

Loading...

Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam Fath Al Mu'in memberikan penjelasan lebih rinci mengenai penghitungan jumlah rakaat dalam salat

"Menggerakkan tangan dan mengembalikannya secara beriringan dihitung satu hitungan, begitu juga mengangkat tangan dari dada dan meletakkan tangan di tempat menggaruk dihitung satu hitungan jika dilaksanakan secara langsung (ittishal), jika tidak langsung maka setiap jeda dihitung satu kali hitungan. Ketentuan ini berdasarkan penjelasan yang dijelaskan oleh guruku (Imam Ibnu Hajar)."

Ketentuan penghitungan gerakan tidak berlaku untuk gerakan kecil seperti jari-jari, bibir, dan lidah. Sehingga, menggaruk dengan jari meski dilakukan berulang lebih dari tiga kali tidaklah dipandang dapat membatalkan salat.

Syaratnya, telapak tangan tidak ikut bergerak. Hal ini dihukumi makruh namun tidak membuat salat menjadi batal.

Jika Gatal Tak Tertahankan

Tetapi, jika rasa gatal tak tertahankan dan mengharuskan menggaruk dengan telapak tangan ikut bergerak hal ini termasuk dimaafkan. Kondisi tersebut digolongkan dalam keadaan darurat.

Syeikh Zainuddin menjelaskan demikian.

"Dikecualikan dengan perkataan 'jari-jari' yakni telapak tangan, maka menggerakkan telapak tangan tiga kali secara beriringan dapat membatalkan sholat, kecuali ketika seseorang merasa gatal-gatal yang tidak sabar secara adat untuk tidak menggaruknya, maka dalam keadaan demikian (menggerak-gerakkan telapak tangan) tidak membatalkan salat karena dianggap darurat. Guruku (Ibnu Hajar al-Haitami) berkata, 'Berdasarkan hal tersebut maka orang yang diberi cobaan berupa gerakan refleks (idtirari) yang memunculkan perbuatan yang banyak maka dianggap sebagai hal yang dimaafkan'."

Tags
Loading...
Loading...