Minggu, 28 April 2019 18:35 WITA

Seminggu Pacsa Serangan di Sri Lanka, Umat Kristen Berdoa di Rumah

Editor: Suriawati
Seminggu Pacsa Serangan di Sri Lanka, Umat Kristen Berdoa di Rumah
Sebuah keluarga di Negombo berdoa ketika mereka mengikuti layanan Uskup Agung di televisi (AFP)

RAKYATKU.COM - Umat Kristen di Sri Lanka hanya berdoa di rumah satu minggu pasca pemboman yang menewaskan lebih 300 orang.

Uskup Agung Colombo, Kardinal Malcolm Ranjith mengadakan misa di sebuah kapel di kediamannya dan disiarkan di televisi.

Dalam kesempatan itu dia menyebut serangan minggu lalu sebagai "penghinaan terhadap kemanusiaan".

"Kami berdoa agar di negara ini akan ada perdamaian dan ko-eksistensi dan saling memahami tanpa perpecahan," katanya.

Namun, meskipun gereja-gereja di Sri Lanka kosong, banyak orang berkumpul untuk pelayanan publik di luar Kuil St Anthony di Kolombo, tempat salah satu pemboman paling mematikan.

Di sana, para biksu Buddha bergabung dengan para pendeta Katolik untuk berdoa dalam sebuah pertunjukan solidaritas dengan komunitas Kristen.

Loading...

Lonceng gereja dibunyikan pukul 08:45, sama dengan waktu ketika seorang pembom meledakkan perangkatnya satu minggu yang lalu.

Pihak berwenang menyalahkan kelompok Islam radikal National Thowheed Jamath (NTJ) atas serangan itu. Tapi mereka yakin bahwa kelompok itu pasti mendapat bantuan dari jaringan yang lebih besar.

Kelompok Negara Islam (ISIS) kemudian mengklaim pihaknya berada di balik pemboman, tetapi tidak memberikan bukti keterlibatan langsung.

Pada hari Sabtu Presiden Sirisena melarang NTJ dan kelompok Jamathei Millathu Ibraheem (JMI), dari Sri Lanka.

Loading...
Loading...