Selasa, 23 April 2019 13:40 WITA

Dugaan Curi Suara Mencuat di Kota Parepare

Penulis: Hasrul Nawir
Editor: Mulyadi Abdillah
Dugaan Curi Suara Mencuat di Kota Parepare
Petugas KPPS saat melakukan penghitungan suara Pemilu 2019 di Kota Makassar pada 17 April.

RAKYATKU.COM, PAREPARE - Dugaan curi suara mulai mencuat pasca pencoblosan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Kota Parepare, Sulsel. Hal ini terkuak lantaran adanya perbedaan jumlah suara berdasarkan C1 milik saksi dengan C1 yang tertempel di kelurahan.

Seperti klaim caleg PPP, Rudy Nadjamuddin. Suaranya mendadak berkurang di C1 yang tertempel di kelurahan.

"Ada dugaan manipulasi data C1 yang ditempel di kelurahan di Tiro Sompe. Seluruh C1 di 20 TPS diubah. Perbedaannya sangat jauh, suara saya berkurang 25 suara sementara caleg nomor urut 1 dan nomor urut 5 justru bertambah. Masing-masing 112 dan 40 suara," katanya saat ditemui di Kantor Bawaslu Parepare, pada Selasa (23/4/2019).

Rudy menduga ada permainan yang terstruktur, sistematis dan massif yang dilakukan penyelenggara untuk memanipulasi data pada saat perhitungan tingkat kecamatan.

"Kalau terjadi seperti itu, kami akan pidanakan para penyelenggara dari tingkat KPPS sampai PPK," ancam dia.

Hal senada juga dipaparkan Kiki, salah satu saksi Caleg PBB, Sudirman Tansi. Dia menduga ada upaya manipulasi data dalam rekapitulasi tingkat kecamatan.

Loading...

"C1 yang dipegang saksi semuanya sama, pas C1 plano dibuka, kenapa justru ada penambahan suara dari salah satu caleg. Kami duga permainan di tingkat KPPS," katanya.

Ketua KPU Kota Parepare, Hasruddin Husain menjelaskan, C1 Plano memang menjadi dasar untuk dijadikan acuan ketika ada perdebatan mengenai jumlah suara.

"C1 plano adalah acuan terakhir, Bawaslu dan saksi. Berdasarkan amanah UU diperbolehkan untuk mendokumentasikan plano, adapun jika ada C1 yang ditempel di kelurahan berbeda dengan C1 plano, kemungkinan karena faktor kelelahan KPPS," urainya.

Ditanya terkait C1 Plano yang mungkin bisa diubah oleh oknum penyelenggara, Hasruddin mengaku kemungkinan tersebut sangat kecil.

"Di TPS itu dikawal ketat oleh aparat kepolisian dan TNI, juga para saksi, kemungkinannya sangat kecil," tutup dia.

Loading...
Loading...