Jumat, 19 April 2019 08:15 WITA

Dipaksa Cari Rp750 Juta dan Diancam Culik Anaknya, Motif Dosen Perempuan Ini Bunuh Caleg

Editor: Aswad Syam
Dipaksa Cari Rp750 Juta dan Diancam Culik Anaknya, Motif Dosen Perempuan Ini Bunuh Caleg
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, SRAGEN - N tak bisa lagi mengelak. Dengan kepala tertunduk, dia akhirnya mengaku di depan polisi, kalau dia yang meracuni Sugimin, caleg Golkar dari Sragen.

Sugimin dihabisi sehari sebelum pencoblosan. Wanita yang berprofesi sebagai dosen dan memiliki usaha konveksi itu, mengaku meracuni caleg itu dengan racun tikus.

Dia sakit hati, karena caleg itu memaksa dirinya mencari pinjaman uang Rp750 juta. Jika tidak, anaknya diancam akan diculik.

Dari hasil penyidikan, N dijerat pasal pembunuhan berencana. Pasalnya, sejak awal tersangka N sudah memiliki rencana membunuh korban dengan meracuninya menggunakan racun tikus. 

"Memang ini direncanakan bukan spontanitas. Untuk itu kami jerat tersangka dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana," ungkap Kasat Reskrim Polres Wonogiri, AKP Aditya Mulya Ramadani sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Kamis (18/4/2019) malam.

Menurut Aditya, fakta pembunuhan berencana itu, tampak dari aksi pelaku membeli racun tikus lalu mengemas dalam bentuk kapsul. 

Kemudian dia berpura-pura membelikan obat dalam bentuk kapsul untuk diberikan kepada korban yang sakit. Untuk kepentingan penyidikan, tersangka N ditahan dan dititipkan di Rutan Wonogiri. 

Loading...

N ditahan hingga 20 hari ke depan untuk menjalani proses penyidikan kasus pembunuhan. 

Diberitakan sebelumnya, motif pembunuhan anggota DPRD Sragen, Sugimin di Wonogiri bukan hanya lantaran persoalan sakit hati saja. 

Sebelum menghabisi nyawa korban dengan meracuni dengan racun tikus, tersangka N merasa terus ditekan korban karena dimintai uang sebesar Rp750 juta yang digunakan untuk biaya nyaleg. 

N juga mengaku diancam anaknya akan diculik oleh korban jika tidak bisa mencarikan pinjaman uang senilai Rp750 juta. 

"Pengakuan N anaknya diancam mau diculik dan dijual. Yang pasti tekanan kuat itu masalah uang," beber Aditya. 

Loading...
Loading...