Kamis, 18 April 2019 10:53 WITA

"Besok Ada Pergerakan Massa Mirip 98", Polisi Pastikan Info Itu Hoaks

Editor: Aswad Syam
Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto: Farih Maulana Sidik/detikcom)

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Saat muncul pesan berantai, menginformasikan akan ada kekacauan yang mirip kasus 98. Atas informasi tersebut, Polri menyampaikan agar tak percaya.

"Teman2 sebaiknya bsk jgn kmna2 dulu, ada kabar akan ada demo karena tdk terima atas kemenangan ini. Bnyk polisi yg sdh siaga malam ini. Mohon untuk teman2 sebaiknya di rmh dulu, Tks
Info A1 dari bbrp teman di BIN, Densus dan Intel bbrp Kodam...di bbrp daerah Jabar, Jakarta dan terutama Solo...tercium plot akan ada pergerakan massa mirip 98...yg memprovokasi justru dari bbrp oknum grup 2 Kopassus yg loyal thd Prabowo...mohon waspada...Panglima dan Kapolri sdh tahu info Intelijen ini...makanya Kapolri sdh memberikan perintah tembak ditempat...????????????????????????" demikian kabar hoaks tersebut.

Polri sementara mengidentifikasi profil para penyebar kabar hoaks yang dinilai provokatif dan agitatif pasca pencoblosan Pemilu 2019.

"Itu hoax. Semua konten-konten provokatif dan agitatif yang disebarkan oleh akun-akun di medsos sedang diprofiling dan identifikasi oleh tim Cyber Bareskrim," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, sebagaimana dilansir Detik, Kamis (18/4/2019).

Menurut Dedi, apabila penyidik sudah mengumpulkan bukti tindak pidana akun-akun tersebut, maka penyidik akan menangkap pemilik akun itu.

Loading...

"Apabila sudah cukup alat buktinya, ditemukan dua alat bukti, akan dilaksanakan penegakan hukum," tegas Dedi.

Dedi menerangkan, pihaknya juga bekerja sama dengan Kemenkominfo dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) unik men-takedown dan memblokir akun-akun yang menyebarkan narasi negatif, terkait situasi negara. Dia mengimbau masyarakat tak mudah percaya atau terpengaruh konten-konten tersebut.

"Untuk Kemenkominfo dan BSSN juga dilaksanakan takedown dan blokir akun-akun tersebut. Dimohon masyarakat untuk tidak mempercayai konten-konten tersebut," jelas Dedi.

Loading...
Loading...