Selasa, 16 April 2019 14:38 WITA

SYL: Saatnya Bangun Budaya Inklusif untuk Cegah Perpecahan

Editor: Abu Asyraf
SYL: Saatnya Bangun Budaya Inklusif untuk Cegah Perpecahan
Syahrul Yasin Limpo

SETUJU atau tidak, sadar atau tidak, persoalan mendasar bangsa ini adalah potensi keretakan yang mengarah kepada perpecahan. 

Kita bisa bilang NKRI harga mati. Bhinneka tunggal ika tak bisa ditawar. Ideologi Pancasila sudah final. UUD 45 harga mati. Pada praktiknya di tengah masyarakat begitu susahnya saling menghargai dan begitu mudahnya saling menuduh. 

Fitnah dianggap hal yang biasa dan penghinaan membabi buta dan terbuka. Sampai kepala negara pun diperlakukan seperti sampah kata-kata dimana caci maki dialamatkan kepadanya, bahkan tanpa mengenal usia. Itulah realitas yang sedang kita hadapi.

Solusinya kita harus berupaya bersungguh-sungguh membangun budaya inklusif mulai dari cara berpikir, bersikap, bertutur dan bertindak. 

Ini pekerjaan besar dunia pendidikan, baik formal maupun informal. Ini keharusan bagi media massa, partai politik, dan organisasi sosial untuk bersama-sama membangun budaya inklusif. 

Mengapa demikian? Karena keberagaman (diversity) atau kebhinekaan kita itu bermata dua. Bisa menjadi bencana kalau tidak dikelola dengan baik dan sebaliknya bisa menjadi rahmat kalau dikelola sungguh-sungguh dalam segala dimensinya.

Loading...

Inklusif artinya kemampuan untuk menerima perbedaan dan tetap bisa saling menghargai, saling menghormati, saling berbagi, saling berangkulan, saling mendukung untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan kemajuan Indonesia.

Banyak pemimpin Indonesia yang telah mencontohkan kerja dengan amaliah dan berbudi pekerti luhur sebagaimana tutunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dimana dalam sejumlah sikap, perilaku, dan perkataannya telah berusaha untuk inklusif.

Beliau merangkul semua orang bukan hanya kawan atau yang menyukainya, tetapi termasuk orang-orang yang melawan dan menghinanya. Itulah contoh pola pikir, perilaku, dan tindakan inklusif yang telah menggerakkan kemajuan bangsa ini dalam lima tahun terakhir. 

Banyak daerah yang sebelumnya tidak mendukungnya, namun tetap gencar dibangun tanpa dibeda-bedakan. Semakin diragukan keislamannya, semakin getol dia membangun peradaban Islam jalan tengah yang menjadi rahmatan lil alamin.

Saya sebagai orang Bugis-Makassar yang sama dengan karakter kita semua di Sulsel yang selalu mendahulukan kemaslahatan umat dan bangsa. Harus menjadi anak bangsa terdepan dari keutuhan cara pandang bahwa yang harus dituju ke depan, bangsa besar ini harus makin kuat ...makin maju ...makin utuh dan sejahtera...Semoga ...salamaki ..SYL teman dan kakak mu semua... (*)
 

Loading...
Loading...