Selasa, 16 April 2019 12:37 WITA

MK Putuskan Quick Count Baru Diumumkan Pukul 15.00 WIB

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
MK Putuskan Quick Count Baru Diumumkan Pukul 15.00 WIB
Gedung Mahkamah Konstitusi. Ist

RAKYATKU.COM - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak permohonan perkara yang diajukan beberapa stasiun TV serta lembaga survei terkait penyelenggaraan quick count.

Artinya, MK melarang quick count digelar sejak pagi hari. Quick count baru boleh diumumkan sore hari.

"Memutuskan, mengadili, menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua Majelis Hakim MK, Anwar Usman, saat membacakan putusan di Gedung MK, Selasa (16/4).  

Dalam putusannya, MK menegaskan pengumuman hasil hitung cepat (quick count) 2 jam setelah pemilihan dengan rujukan zona WIB yang diatur Pasal 449 ayat (5) UU Pemilu telah sesuai. 

Diketahui waktu pemilihan selesai pada pukul 13.00 WIB, sehingga hasil quick count baru boleh diumumkan pukul 15.00 WIB.

Pertimbangannya, pengumuman hasil hitung cepat sebelum pemilihan selesai dilakukan berpotensi mempengaruhi pemilih. 

Loading...

"Mahkamah menilai selisih waktu 2 jam antara wilayah WIB dengan WIT memungkinkan hasil hitung cepat di WIT sudah diumumkan ketika pemilihan pada WIB belum selesai. Pengumuman ini yang karena kemajuan teknologi informasi dapat diakses ke seluruh Indonesia berpotensi mempengaruhi sebagian pemilih yang bisa jadi mengikuti karena faktor psikologis ingin menjadi bagian pemenang," jelas hakim MK Enny Nurbaningsih dalam pertimbangannya, seperti dikutip Kumparan.

Selain itu, MK juga menganggap aturan pelarangan publikasi hasil survei pada masa tenang pada Pasal 449 ayat (2) UU Pemilu sudah tepat. 

Sebelumnya dalam permohonannya, para pemohon meminta majelis MK untuk membatalkan aturan publikasi hasil survei pada masa tenang pada Pasal 449 ayat (2) UU Pemilu, dan hitung cepat (quick count) 2 jam setelah pemilihan dengan rujukan WIB yang diatur Pasal 449 ayat (5) UU Pemilu. 

Mereka menilai penundaan publikasi hasil hitungan cepat justru berpotensi menimbulkan spekulasi yang tidak terkontrol seputar hasil Pemilu, apalagi Pemilu kali ini adalah Pemilu perdana yang menggabungkan Pilpres dan Pileg dalam sejarah Indonesia. 


 

Loading...
Loading...