Selasa, 09 April 2019 17:05 WITA

Mengapa Warga Ramai-Ramai Sedekahi Prabowo-Sandi yang Dikenal Tajir? Begini Kata Pengamat

Penulis: Fathul Khair
Editor: Abu Asyraf
Mengapa Warga Ramai-Ramai Sedekahi Prabowo-Sandi yang Dikenal Tajir? Begini Kata Pengamat
Uang yang terkumpul pada kampanye akbar Prabowo-Sandi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4/2019).

RAKYATKU.COM - Pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno memiliki kekayaan yang jauh lebih besar dibandingkan Jokowi-Ma'ruf. Lalu mengapa pendukung dan simpatisan rela menyumbang mereka?

Ini fenomena unik pada Pilpres 2019. Para pendukung dan simpatisan berebut untuk memberi sumbangan kepada Prabowo-Sandi di setiap acara kampanye. Luar biasanya, warga tak tanggung-tanggung memberikan sumbangan. Celengan hingga amplop tebal mereka serahkan.

Tak jarang di antara mereka ada yang menyerahkannya sambil menangis. Terharu. Seolah-olah sumbangan itu diberikan untuk jihad fii sabilillah. Nyaris tidak ada bedanya suasana penggalangan donasi untuk Palestina, Rohingya, dan semacamnya.

Berdasarkan data LHKPN KPK tahun 2018, Prabowo Subianto tercatat memiliki kekayaan lebih dari Rp1,952 triliun.

Wakilnya, Sandiaga Uno jauh lebih kaya lagi. Berdasarkan LHKPN KPK pada Agustus 2018, total harta Sandiaga Uno mencapai Rp5 triliun. Itu sudah termasuk aset Sandi di New York dan Boston, Amerika Serikat yang masing-masing senilai Rp33,2 miliar dan Rp15,6 miliar.

Setelah menjadi cawapres, Sandiaga Uno menjual sebagian sahamnya. Nilainya Rp529 miliar. Diduga dana itu dimanfaatkan untuk memaksimalkan kampanye pada Pilpres 2019 ini.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menganggap, fenomena warga yang memberi uang kepada Prabowo-Sandi, lebih dari sekadar membantu pembiayaan kampanye pasangan 02 itu. 

"Sebenarnya model menggalangan dana dengan cara crowdfunding dan fundraising seperti itu punya makna simbolik. Cara itu mengirim pesan bahwa massa kampanye itu hadir adalah peserta yang mandiri dan punya kesadaran filantropis," kata Luhur, Senin (8/4/2019).

loading...

Dijelaskan Luhur, gaya seperti ini, sebagai antitesa massa bayaran yang berbasis pragmatisme. Selama ini kemeriahan setiap rapat akbar atau kampanye terbuka disinyalir karena iming-iming materi. Peserta kampanye dimobilisasi dengan diberi uang transpor atau uang makan.

"Peserta yang hadir pun (dalam kampanye pola lama) bukan gambaran dukungan yang sesungguhnya. Saya kira itu yang ingin didekonstruksi di kampanye Prabowo-Sandi. Khususnya di kampanye akbar di GBK kemarin," ujarnya. 

Meskipun secara umum, lanjut Andi Luhur, pembiayaan politik tidaklah mungkin cukup dengan hanya mengandalkan kedermawanan para pemilih. "Sistem demokrasi elektoral kita sungguh berbiaya mahal. Hal yang memudahkan migrasi kalangan pengusaha ke jalur elected politician," jelasnya.

Digambarkan Luhur, fenomena seperti ini, memang kelihatannya baru begitu tergambar jelas pada Pilpres tahun ini, dibandingkan Pilpres sebelumnya.

"Mungin karena baru kali ini fragmentasi dukungan begitu tajam. Setiap calon berusaha mencari diferensiasi sosialisasi yang khas. Termasuk lewat pengumpulan donasi seperti itu," katanya.

Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno mengaku sangat terharu dengan sumbangan masyarakat selama ini. Dia berharap fenomena ini menjadi konsep baru dalam politik di Indonesia.

Pemilih tidak lagi selalu menunggu-nunggu uang dari para kandidat. Justru sebaliknya, mereka ikut terlibat dalam perjuangan untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih baik. Sumbangan itu menunjukkan kuatnya harapan masyarakat untuk menghadirkan perubahan.

Loading...
Loading...