Senin, 01 April 2019 16:07 WITA

"Saya Keliru, Dana Desa Saya Pakai Bayar Pendemo," Kenakan Baju Oranye, Mata Kades Ini Memerah

Penulis: Muh. Ishak Agus
Editor: Aswad Syam
MS bercucur air mata.

RAKYATKU.COM, GOWA - Air mata MS (59) terus mengucur deras. Mengenakan baju oranye, juga masker penutup wajah, mata Kepala Desa Bategulung itu memerah. Dengan punggung tangan, dia menghapus air matanya. Tampak, pergelangan tangan itu terborgol.

MS dihadirkan di Mapolres Gowa. Dia diamankan terkait dugaan penyelewengan dana desa.

Polres Gowa yang dipimpin Kapolres, AKBP Shinto Silitonga, berhasil mengamankan berkas sebagai barang bukti korupsi dana desa. Di antaranya, dokumen APBDes dan laporan realisasi anggaran tahun 2015-2018, dokumen pencairan dana desa, laporan perhitungan keuangan dari Inspektorat Pemda Gowa, dan 25 Lembar kuitansi pengambilan dana.

Modus kepala desa yang kini ditetapkan sebagai tersangka tersebut, digunakan untuk kepentingan pribadinya.

Dari pengakuannya, MS mengatakan, dirinya terpaksa mengambil uang yang diamanahkan kepada dirinya tersebut, untuk kepentingan keluarganya.

"Saya ada dalam kekeliruan. Pada 2016 saya mendapat musibah. Anak saya meninggal diamuk massa karena suatu masalah. Maka dari itu, dana itu saya pakai untuk memanggil massa gelar demo atas kematian anak saya tersebut. Menyusul istri saya juga meninggal tahun 2017, karena harus cuci darah atas suatu penyakit yang ia derita," terang MS kepada media, Senin (1/4/2019).

Dari hasil penyelewengan dana tersebut, kerugian negara mencapai Rp531.168.459. Dirinya terpaksa mengalihkan dana dari negara tersebut, untuk menutupi kebutuhan mendesak dalam keluarganya. Dia menyelewengkan dana tersebut selama dua periode, yakni tahun 2015 sampai 2018 di Desa Bategulung Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat dan temuan serta Laporan dari Satgas Dana Desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Kemudian Unit Tipidkor Polres Gowa melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan dokumen, pengecekan ke lapangan dan melakukan klarifikasi hingga ditemukan adanya pengerjaan proyek desa yang tidak sesuai RAB. Bahkan ada pekerjaan proyek yang sama sekali tidak dikerjakan. 

Loading...

Penyidik pun meminta Inspektorat melakukan Audit Investigasi Khusus. Dan hari Rabu, (27/2/2019) penyidik menerima hasil audit, lalu meningkatkan status penyelidikan ke tahap penyidikan.

Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, pihaknya melakukan gelar perkara pada Senin, (18/3/2019). Penyidik menetapkan Kepala Desa Bategulung sebagai tersangka pada hari Selasa, (19/3/2019).

Pasca penetapan tersangka, pelaku mangkir dua kali dari panggilan penyidik yaitu Jumat, (22/3/2019) dan Senin, (25/3/2019). 

"Surat panggilan diterima istri dan pelaku, dan hingga Senin (25/03/2019) tersangka belum memenuhi panggilan penyidik. Penyidik pun mendatangi rumah pelaku, namun tersangka tidak ditemukan.
Akhirnya, pelaku menyerahkan diri Sabtu (30/3/2019) pukul 10.00 Wita. Pelaku saat itu berada di rumah keluarganya utk menenangkan diri," ucap Shinto kepada awak media.

Pihak kepolisian menemukan fakta di lapangan, di antaranya tidak merealisasikan anggaran desa sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), bahkan ada beberapa proyek yang tidak dikerjakan sama sekali. 

Ditemukan bukti, bahwa mengambil anggaran penyelenggaraan pemerintah desa, bahkan mengambil uang tunjangan, honor, uang makan dan minum serta uang transportasi aparat desa. Pelaku tidak menyerahkan uang Bumdes ke pengelola dan tidak meyetorkan ke rekening Bumdes, melainkan digunakan untuk keperluan pribadi. Kepala desa tersebut, juga tidak menyetorkan utang pajak dari tahun 2016-2018.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka MS dipersangkakan Pasal 2  ayat 1 dan/atau Pasal 3 Jo Pasal 18 UU RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah menjadi UU RI No. 20 Th 2001.

Loading...
Loading...