Senin, 01 April 2019 09:59 WITA

Tersiksa, Begini Perlakuan terhadap Pelaku Penembakan Brutal Selandia Baru dalam Penjara

Editor: Abu Asyraf
Tersiksa, Begini Perlakuan terhadap Pelaku Penembakan Brutal Selandia Baru dalam Penjara
Brenton Tarrant, pelaku penembakan brutal di masjid Selandia Baru.

RAKYATKU.COM - Pelaku penembakan brutal di masjid Selandia Baru, Brenton Tarrant mendapat perlakuan khusus di penjara. Semua akses komunikasi ditutup. Begitu pula kunjungan.

Brenton saat ini ditahan di penjara Auckland di Paremoremo. Penjara ini dianggap sebagai paling ketat di Selandia Baru. Semacam Nusakambangannya Indonesia.

Biasanya tahana diberi hak minimal, antara lain menelepon sekali sepekan, menonton televisi dan mendengar radio, serta menerima kunjungan. Kepada Brenton, semua itu ditiadakan.

Menutip situs berita Stuff, BBC melaporkan, Brenton Tarrant mengeluh dalam penjara karena tidak diberi akses panggilan telepon dan pengunjung. Dia mengeluh kepada Departemen Pemasyarakatan karena merasa kehilangan hak-hak dasarnya. 

"Dia berada di bawah pengawasan dan isolasi terus menerus," kata seorang sumber kepada Stuff. "Dia tidak mendapatkan hak minimum yang biasanya. Jadi tidak ada panggilan telepon dan tidak ada kunjungan," lanjut dia.

Berdasarkan UU Pemasyarakatan Selandia Baru, tahanan dipastikan minimum boleh dikunjungi sekali dalam seminggu, setidaknya selama 30 menit. Narapidana juga dipastikan menerima satu panggilan telepon dalam seminggu. 

Loading...

Selain itu, tahanan juga mendapat fasilitans makanan dan minuman yang cukup, tempat tidur, perawatan kesehatan, dan olahraga. 

"Tahanan memiliki hak untuk diperlakukan dengan kemanusiaan, martabat, dan rasa hormat saat berada di penjara," demikian tulis situs resmi Departemen Pemasyarakatan. 

Namun, lembaga tersebut memang dapat menerapkan pengecualian untuk kasus tertentu. Juru bicara Departemen Pemasyarakatan Selandia baru mengonfirmasi, Tarrant memang tidak memiliki akses pada medi apa pun dan pengunjung. 

"Dia diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam UU Pemasyarakatan 2004 dan kewajiban internasional kami untuk menangani tahanan," katanya kepada Newshub. 

"Pada saat ini, dia tidak memiliki akses untuk televisi, radio, atau surat kabar, dan tidak boleh ada pengunjung," lanjutnya. 

Loading...
Loading...