Selasa, 26 Maret 2019 17:54 WITA

Ikut Pertukaran Pemuda ke Banjarmasin, Mualaf Cantik Australia Ini Digaet Pria Aceh

Editor: Abu Asyraf
Ikut Pertukaran Pemuda ke Banjarmasin, Mualaf Cantik Australia Ini Digaet Pria Aceh
Wynni Jones dan suaminya. (FOTO: DOK PRIBADI)

RAKYATKU.COM - Banyak hikmah di balik penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru. Bukannya menimbulkan ketakutan, malah meningkatkan girah umat Muslim dan umat lainnya untuk bersatu.

Perempuan cantik asal Australia, Wynni Jones merasakannya. Masuk Islam sejak tiga tahun lalu, dia menyebut kejadian di Christchurch telah membuat komunitas Muslim dan komunitas lain dari latar belakang dan keyakinan berbeda untuk bersatu dan saling dukung satu sama lain.

"Teroris sudah gagal, karena apa yang kita lihat malah kesatuan yang luar biasa dan kekuatan," ujar perempuan berkulit putih itu seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (26/3/2019).

Wynni Jones memutuskan menjadi mualaf tiga tahun lalu. Dia tertarik masuk Islam setelah mengikuti program pertukaran pemuda Australia-Indonesia (AIYEP) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tahun 2015.

Pekan lalu, perempuan asal Kota Cairns, Queensland, ini diundang menjadi salah satu pembicara di acara peringatan bagi korban serangan teror ke masjid di Christchurch, Selandia Baru. Acara itu digelar warga Castlemaine, sebuah kota kecil di pedalaman negara bagian Victoria.

Sekitar 100 orang datang ke acara tersebut yang juga menjadi bentuk dukungan bagi kelompok minoritas lainnya, termasuk suku Aborigin Dja Dja Wurrung, pencari suaka, dan kelompok imigran yang kini menetap di Castlemaine.

Wynni banyak bercerita pengalamannya menjadi muslimah. Dia bilang, kebencian tidak berasal dari teror, melainkan diskriminasi. "Kebencian dimulai dengan seseorang yang tidak ingin saya menggunakan jilbab, tidak ingin duduk di sebelah saya di tram, atau berteriak mengejek saya di jalanan," kata Wynni.

Loading...

Wynni awalnya hanya coba-coba mengenakan hijab di Banjarmasin. Alasannya untuk menghormati budaya setempat, tapi memutuskan untuk terus menggunakannya saat kembali ke Australia setelah sempat tinggal di Yogyakarta selama empat bulan.

Baginya menggunakan hijab adalah sebuah bentuk feminisme dan pilihan yang memberdayakan perempuan. "Menggunakan jilbab menjadi bentuk penolakan perempuan sebagai objek dan seksualisasi tubuh perempuan," ujar Wynni yang sedang menyelesaikan program doktor di University of Melbourne untuk bidang studi hukum hak perempuan.

"Jadi hijab sebagai sebuah sikap politik, karena tubuh saya adalah milik saya sendiri dan tertutup untuk dikomentari dan dikritik," katanya.

Tahun 2017, Wynni menikah dengan Syahrial Umar, pria asal Aceh yang sekarang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar di Bendigo.

"Castlemaine adalah tempat yang baik untuk membesarkan keluarga," kata Wynnie yang pertama kali bertemu suaminya di program AIYEP.

Loading...
Loading...