Selasa, 26 Maret 2019 12:27 WITA

UIN Alauddin Bantah 'Kursi' Rektor Hasil Jual Beli Jabatan

Penulis: Azwar Basir
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
UIN Alauddin Bantah 'Kursi' Rektor Hasil Jual Beli Jabatan
Prof Lomba Sultan.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof Lomba Sultan membantah tentang isu mengenai jual beli jabatan rektor.

Isu jual beli kursi Rektor UIN Alauddin mencuat setelah Mantan Ketua MK, Mahfud MD mengatakan, mantan calon Rektor UIN Alauddin, Andi Faisal Bakti sempat diminta membayar Rp 5 miliar agar bisa menduduki jabatan rektor.

Andi Faisal Bakti merupakan peraih suara terbanyak pada pemilihan Rektor UIN Alauddin pertama yang berlangsung, 7 Agustus 2014. Saat itu ada dua kandidat, yaitu Prof Andi Faisal dan Prof Mardan. 

Setelah itu, pemilihan rektor (Pilrek) kembali dibuka, ada tiga calon yang bertarung yaitu, Prof Mardan, Prof Kamaruddin Ali, dan Prof Musafir Pababbari. Keluarlah Prof Musafir Pababbari sebagai peraih suara terbanyak. Prof Andi Faisal sudah tidak ikut karena merasa sudah menangani pada saat Pilrek pertama. 

Prof Lomba Sultan mengatakan, mulai dari awal Prof Andi Faisal menang hingga batal dilantik Kemenag. 

"Pada saat hari H pemilihan ternyata ada beberapa anggota senat tidak hadir hanya berkumpul di satu fakultas, saya sebagai ketua senat memperpanjang satu jam jadi kita buatkan tata tertib untuk memberikan kesempatan untuk mereka bisa hadir memilih," kata Lomba Sultan, saat ditemui Rakyatku.com di UIN Alauddin Makassar, Selasa (26/3/2019).

Akan tetapi, kata dia, sampai waktu satu jam waktu yang diberikan, sebagian anggota senat  tersebut tidak hadir. Sementara anggota senat yang hadir dibuatkan berita acara untuk memilih.

"Kalau tidak salah ada 26 anggota senat yang hadir. Inilah yang dibuatkan berita acara, sehingga dikirim ke Pak Prof Gassing untuk diteruskan ke Jakarta untuk menunggu kapan di SK kan kapan pelantikan. Karena pemenang atau yang mendapatkan suara terbanyak setelah pemilihan dilakukan Prof Andi Faisal," tuturnya.

Loading...

Bukannya menerima jadwal pelantikan, lanjut Lomba Sultan, Kemenag justru memberikan jawaban bahwa Prof Andi Faisal tidak bisa dilantik karena menganggap saat pemilihan tidak qorum.

"Ternyata tidak sampai 2/3 senat hadir karena bagaimana tidak qorum kalau cuma 26 hadir dari 58 anggota senat. Mereka itu tidak hadir karena kumpul di satu fakultas. Itulah penyebab sehingga tidak qorum sesuai statuta, tidak jadilah dilantik Prof Andi Faizal Bakti," jelasnya.

Untuk itu ia menegaskan bahwa jabatan Rektor UIN Alauddin tidak ada hubungannya dengan jual beli. 

"Makanya Pak Mahfud saya sesalkan karena tidak klarifikasi dulu ke UIN Makassar terutama kepada saya karena saya waktu itu (saya) ketua senat," bebernya.

"Kita menyampaikan bahwa satu rupiah pun tidak ada keluar. Kecuali kalau ada oknum yang mintai uang Pak Andi Faisal," tutupnya.

 

Loading...
Loading...