Senin, 25 Maret 2019 23:01 WITA

"Wanita Hamil Dibantai, Anak-anak Dibakar Hidup-hidup," Pembunuhan 134 Muslim di Mali

Editor: Aswad Syam
Lokasi pembantaian yang dilakukan kelompok di Mali.

RAKYATKU.COM, MALI - Pasca Selandia Baru, sebuah pembantaian besar-besaran terhadap komunitas muslim, kini terjadi lagi. Kali ini, lokasinya di Ogossogou, Mali Tengah, Sabtu, 23 Maret 2019 lalu.

Saat itu, fajar baru saja menyingsing. Penduduk desa etnis Peuhl (Fulani), sedang melaksanakan salat subuh. Kelompok etnis Fulani adalah seminomadik, terutama Muslim dan tinggal di berbagai negara Afrika Barat.

Sejumlah pria menyamar sebagai pemburu, sedang mengendap-endap. Dalam keremangan dini hari itu, mereka bergerak mendekati setiap rumah para pengembala itu.

"Serang!!!" aba-aba terdengar.

Mereka mulai membakar rumah etnis Fulani itu. Wanita hamil dibantai, sementara anak-anak yang masih tertidur pulas, dilempar ke bara api.

PBB seperti dilansir ABC, Senin (25/3/2019) mencatat, ada 134 tewas. Mayat-mayat hangus mereka bergelimpangan. Mayat-mayat itu ditutupi dengan kain.

Menurut PBB, wanita yang sedang hamil ikut dibunuh dan beberapa korban dibakar hidup-hidup.

Video terbaru dari kekerasan itu beredar pada hari Minggu. Video menunjukkan para korban berserakan di tanah di tengah sisa-sisa rumah mereka yang terbakar.

Milisi etnik Dogon yang telah disalahkan atas sejumlah serangan di Mali tengah selama setahun terakhir, dituduh berada di balik serangan itu.

Menurut Tabital Pulaaku, sebuah kelompok misi antikekerasan Peuhl, di antara para korban di Ogossogou adalah wanita hamil, anak-anak kecil dan orang tua.

Loading...

Video grafis yang diperoleh The Associated Press menunjukkan, setelah serangan hari Sabtu, banyak korban terbakar di dalam rumah mereka. Tubuh anak kecil terlihat ditutupi dengan selembar kain, dan ada pula kartu ID ditunjukkan warga setempat berlumuran darah.

Di Ibu Kota Mali, Bamako, Presiden Dewan Keamanan PBB Francois Delattre yang sedang berkunjung pada Sabtu malam, mengecam pembunuhan itu sebagai serangan yang biadab.

Paling tidak 55 orang terluka dan misi PBB di Mali mengatakan, mereka sedang bekerja untuk memastikan orang yang terluka telah dievakuasi. 
Di New York, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan itu dan menyerukan pemerintah Mali untuk segera menyelidikinya serta membawa para pelaku ke pengadilan.

Kelompok ekstremis Islam diusir dari pusat-pusat kota di Mali utara selama operasi militer yang dipimpin Prancis 2013. Para militan, yang tersebar di seluruh daerah pedesaan, berkumpul kembali dan mulai melancarkan berbagai serangan terhadap militer Mali dan misi PBB.

Sejak 2015, ekstremisme telah merangsek jauh ke Mali tengah dan telah memperburuk ketegangan antara kelompok Dogon dan Peuhl.

Anggota-anggota kelompok Dogon menuduh kelompok Peulh mendukung para militan yang terkait dengan kelompok-kelompok kekerasan di utara dan di luar negeri. Kelompok Peulh menuduh balik kelompok Dogon mendukung tentara Mali dalam upayanya untuk membasmi ekstremisme.

Pada bulan Desember, Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa pembunuhan milisi terhadap warga sipil di Mali tengah dan utara sudah di luar kendali.

Kelompok HAM itu mengatakan milisi etnik Dogon yang dikenal sebagai Dan Na Ambassagou dan pemimpinnya telah dikaitkan dengan banyak kekejaman dan menyerukan pemerintah Mali untuk menuntut para pelaku.

Loading...
Loading...