Minggu, 17 Maret 2019 07:30 WITA

Warga Desa ini Percaya, Akan Celaka Jika Memakai Sepatu 

Editor: Eka Nugraha
Warga Desa ini Percaya, Akan Celaka Jika Memakai Sepatu 

RAKYATKU.COM --- Andaman adalah sebuah desa kecil di negara bagian Tamil Nadu di India Selatan. Sebanyak 130 kepala keluarga tinggal di desa ini. Mereka mayoritas adalah petani. 

Desa kecil yang sederhana ini memiliki kebiasaan yang tidak lazim. Setiap hari, kita tidak akan melihat orang yang berjalan dengan alas kaki. Warga di desa ini percaya, mereka akan mendapatkan celaka yang serius jika berjalan di desa ini dengan menggunakan sepatu atau sendal. 

Seperti yang dilansir dari BBC Travel, sebuah pohon mimba besar di pintu masuk desa menjadi tanda bahwa di tempat ini, semua orang sudah harus melepaskan alas kakinya. Setiap orang yang datang harus menenteng alas kaki nya setelah melewati pohon itu untuk memasuki desa.

Tidak ada seorang pun di desa Andaman, kecuali yang sangat tua dan lemah, yang memakai alas kaki. "Ibu saya memberi tahu saya bahwa seorang dewi yang sangat kuat bernama Muthyalamma melindungi desa kami, sehingga kami tidak boleh memakai sandal di sini untuk menghormati-Nya," kata seorang bocah, Nithi, 10 tahun. "Jika saya mau, saya bisa, tapi itu akan seperti menghina seorang teman yang dikagumi semua orang," tambahnya lagi. 

Semangat inilah yang diajarkan kepada anak-anak oleh orang tua mereka di Andaman. Tidak ada yang memaksakan praktik itu. Tradisi itu bukan aturan agama yang ketat, melainkan tradisi kuno yang penuh cinta dan rasa hormat.

Loading...

"Kami adalah generasi keempat dari penduduk desa yang hidup seperti ini," kata Karuppiah Pandey, seorang pelukis berusia 53 tahun. 

Ketika seseorang mengunjungi desa mengenakan sepatu, mereka mencoba menjelaskan aturannya, katanya. Tetapi jika mereka tidak mematuhi, aturan itu tidak pernah dipaksakan.

"Ini murni pilihan pribadi yang dianut oleh semua yang tinggal di sini," kata Pechiamma.  "Sebuah legenda mengatakan demam misterius akan menyerang Anda jika Anda tidak mengindahkan aturan itu," kata Subramaniam Piramban, 43. 

"Kami tidak hidup dalam ketakutan ini, tetapi kami sudah terbiasa memperlakukan desa kami seperti ruang sakral, bagi saya, desa ini seperti bagian kuil," katanya.

Loading...
Loading...