Kamis, 14 Maret 2019 17:07 WITA

"Kalian Tak Kasihan Sama Bapak?", Pimpinan Pesantren Cabuli Puluhan Santri

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Oknum pimpinan Ponpes Al Ikhwan berinisial DI.

RAKYATKU.COM - Aksi bejat pimpinan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Al Ikhwan berinisial ustaz DI (53) akhirnya terbongkar.

Ustaz DI diamankan polisi lantaran diduga telah mencabuli puluhan santrinya di Dusun 2, Desa Serapuh ABC, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, kasus ini terungkap saat puluhan santri laki-laki melarikan diri dari Ponpes Al Ihkwan, pada Senin 11 Maret 2019 lalu. Mereka meminta pertolongan warga sekitar.

"Informasi yang dihimpun, sedikitnya ada 23 santri laki-laki mengaku menjadi korban dugaan kejahatan seksual dalam bentuk sodomi, bahkan ada dari antara santri itu sudah disodomi berulang kali hingga tak terhitung banyaknya," kata Arist.

Arist mengatakan, Firman (bukan nama sebenarnya 16 tahun) kelas 2 Aliyah di Ponpes tersebut mengaku bahwa sebelum melarikan diri, para santri akan melakukan aksi untuk melaporkan perbuatan cabul oknum pimpinan Ponpes tersebut. Sayangnya, rencana tersebut diketahui oleh Ustaz DI.

"Mendengar rencana itu, Ustaz DI akhirnya pada Senin 11 Maret 2019 para santri dikumpulkan semuanya pada siang hari tepatnya sehabis salat Dzuhur," ucap Arist mengulang kesaksian santri tersebut.

Loading...

Menurut Arist, dari pengakuan santri tersebut, ada sekitar 50 santri yang dikumpulkan. Saat itu, DI mengatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada para santri.

"Saya minta maaf sama kalian semua atas perbuatan saya dan saya menyesal. Apa kalian tidak mau memaafkan Bapak. Apakah nggak kasihan kalian sama bapak. Saya menyesal atas perbuatan saya", ungkap Arist menirukan perkataan DI, seperti dikutip Covesia, Kamis (14/3/2019).

Berdasarkan temuan Komnas PA, modus ustaz DI melakukan pencabulan itu berawal dengan mengajak bicara lalu menepuk-nepuk badan korban. Setelah itu, lanjutnya, para santri merasa terhipnotis.

"Di dalam kamar itu para santri diajak mula-mula bicara sehingga mereka terpancing dan kemudian badan para santri ditepuk-tepuk oleh DI, sehingga santri itu terperdaya dan kehilangan ingatan atau kesadaran seperti terhipnotis," tukasnya.

Loading...
Loading...