Senin, 11 Maret 2019 11:15 WITA

Tak Sebut Nama, Aa Gym Puji Gaya Kampanye Cawapres Ini

Editor: Abu Asyraf
Tak Sebut Nama, Aa Gym Puji Gaya Kampanye Cawapres Ini
KH Abdullah Gymnastiar

RAKYATKU.COM - Pimpinan Ponpes Darut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar mendukung siapa pada Pilpres 2019? Ada pernyataan menarik dai kondang yang akrab disapa Aa Gym tersebut awal Maret 2019.

Dalam kajian MQ pagi, Jumat (1/3/2019) bertema, "Agar Terbiasa Istiqamah dalam Kebaikan", Aa Gym sempat menyinggung soal Pilpres. Dia menyampaikan harapannya agar Pilpres ini berlangsung damai.

"Aa senang ada salah seorang ini ya, yang kebetulan santri kita lagi yang jadi cawapres. Saya tidak boleh nyebut nama. Dulu pernah ikut (nyantri di Darut Tauhid), dan mengatakan tenang atuh, yang menentukan itu Allah," ujar Aa Gym memulai bahasan tentang Pilpres.

"Saya suka sekali dengar kampanye seperti ini. Tidak agresif menyerang tetapi mengajak orang lebih dekat ke Allah. Memang seharusnya begitu. Kampanye itu bukan mengajak orang memilih dirinya, tetapi mengajak orang mendekat kepada Allah karena Allah yang menentukan segalanya. Baru ini kampanye berkualitas," lanjut Aa Gym seperti dilihat Rakyatku.com di akun YouTube resminya, Senin (11/3/2019).

"Kalau maksa orang milih dirinya aaaa.... (geleng-geleng kepala). Memangnya akan sanggup mengurus negeri ini? Belum tentu sanggup. (Kalau) nggak ditolong Allah, nggak ada yang bisa mengurus negara sebesar ini dan nggak bisa satu pihak, harus dengan bantuan berbagai pihak," kata Aa Gym.

Loading...

Tak hanya itu, dia juga menyinggung maraknya kepala daerah yang mendeklarasikan dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres. Menurutnya, sikap seperti itu mengurangi simpati dari sebagian masyarakat.

"Sebetulnya Aa mengharapkan kepada para kepala daerah itu, kalau sudah jadi kepala daerah mah, udahlah lebih baik berkhidmat untuk semua masyarakatnya, jangan untuk pilihannya, benar? Ini sih keinginan saya," katanya.
 
Aa bilang, rasanya kurang indah ketika seseorang sudah terpilih jadi kepala daerah, kemudian sibuk menggembar gemborkan pilihannya yang tidak menjadi pilihan semua masyarakatnya.

"Jadi hilang simpatinya. Harusnya kalau sudah jadi kepala daerah, udah pilihan pribadi, pribadi, tetapi sekarang kan menjadi milik masyarakat satu daerah itu. Ini sih harapan saya," tutupnya.

Loading...
Loading...