Sabtu, 02 Februari 2019 13:18 WITA

Peluk Istri Orang dan Hamili Janda, Dua Kades Ini Disoal

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Peluk Istri Orang dan Hamili Janda, Dua Kades Ini Disoal
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Dua Kepala Desa di Kecamatan Jujuhan Ilir dan Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi harus berurusan dengan warganya karena melakukan tindakan asusila.

Pertama adalah Kades di Kecamatan Jujuhan berinisial SH. Ia diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu warganya. Ia nekat memeluk istri orang lain yang tinggal di dalam kebun karet beberapa waktu lalu.

Atas perbuatan itu, SH dituntut oleh keluarga korban sebesar Rp 20 juta sebagai bentuk perdamaian. Namun, secara sidang adat, permasalahan ini belum selesai.

"Kalau pihak keluarga pelaku dan korban sudah sepakat berdamai. Namun, secara adat belum selesai, karena damai tidak melalui proses sidang adat," kata Syamsudin, imam masjid dusun setempat.

Menurutnya, SH sebelumnya juga pernah melakukan tindakan asusila kepada wanita lain yang juga merupakan warganya sendiri.

"Sebelumnya juga pernah, ia (SH) juga membayar uang perdamaian sekitar Rp 3,5 juta. Persoalan ini lagi-lagi tidak diselesaikan secara adat. Kami sebagai masyarakat berharap adanya penyelesaian secara adat, agar ada efek jera terhadap pelaku," tegas Syamsudin, dikutib Suara, Sabtu (2/2/2019).

Loading...

Sementara itu, perbuatan asusila lainnya diduga dilakukan oleh oknum kades di Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang. Kades itu diduga sudah menghamili seorang janda yang juga warganya sendiri.

Namun beredar informasi, pelaku dan korban sudah melakukan pernikahan untuk menutupi perbuatannya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Dusun (PMD) Kabupaten Bungo, Taufik Hidayat mengaku sudah mendengar adanya informasi perbuatan oknun dua kades tersebut. Hanya saja kasus ini belum bisa dibuktikan secara hukum atau adat.

"Memang ada informasi tersebut. Saya juga sudah menurunkan anggota untuk menyelidiki persoalan ini. Tapi secara laporan resmi tentang kasus ini belum ada. Dengan demikian kita belum bisa mengambil tindakan," ujar Taufik.

Loading...
Loading...