Kamis, 31 Januari 2019 10:51 WITA

"Jangan Tinggalkan Ibu Nak," Remziye Lihat Putranya Sekarat Ditikam Pisau Rambo

Editor: Aswad Syam
Remziye (tengah), menangis di luar garis polisi, melihat putranya sekarat di trotoar.

RAKYATKU.COM, LONDON - Nedim Bilgin kejang-kejang. Ada banyak lubang besar di perut remaja 17 tahun itu. Dia tersungkur di trotoar jalan, darah bersimbah di bawahnya.

Remziye, sang ibu, hanya bisa melihat dari kejauhan. Bagaimana putranya menghembus napas satu-satu. Sebelum kemudian diam. Guyuran hujan, bercampur dengan air mata Remziye.

Saat hendak mendekat memeluk putranya, seorang polisi menahannya. Dia dan warga lainnya dilarang melintasi garis polisi.

Saksi mata, Andrea Alexander sebagaimana dilansir Daily Mail mengatakan, Nedim Bilgin, ditikam berulang kali dengan pisau besar 'gaya Rambo', ketika perkelahian pecah pada Selasa malam, setelah pertikaian dengan geng.

Nedim Bilgin tewas setelah menolak menyerahkan sepedanya kepada anggota geng di London.

Nedim yang terluka - yang hanya beberapa ratus meter dari rumahnya di Islington, London Utara, - mencoba berjalan sempoyongan ke toko terdekat sebelum jatuh ke trotoar.

"Sebelum ambulans tiba, ada tiga pria yang berusaha menyelamatkan hidupnya, dan teman-temannya berlari ke rumahnya untuk menjemput ibunya, yang datang segera setelah itu," ujar Alexander.

Ben Lynch (18), seorang penjaga pantai yang memberikan pertolongan pertama kepada Nedim, mengatakan kepada London Evening Standard, dirinya berada di sebuah bar di seberang jalan, dan mendengar sekelompok orang berteriak.

"Aku berlari menyeberang jalan, dan melihat darah di trotoar. Dan bocah ini berdarah. Aku mengangkat bajunya dan mulai menekan. Saya mencoba memberinya pertolongan pertama. Saya melakukan sebanyak yang saya bisa untuk membantunya," ungkapnya.

Polisi mengkonfirmasi, Nedim telah ditikam beberapa kali dan dua pisau kemudian ditemukan dari tempat kejadian. 

Loading...

Saksi Christopher Chambers-Russell, melihat ibu dan ayah Nedim tiba lebih dari satu jam, setelah penikaman di luar bandar taruhan Ladbrokes, dan merunduk di bawah garis polisi di sekeliling tubuh putra mereka. 

"Tidak ada seorang pun selain seorang ibu yang bisa menangis seperti dia," katanya. “Itu memilukan. 

“Seorang lelaki yang saya pikir adalah ayahnya, yang didorong di bawah garis polisi, lalu ibu itu mengikuti sebelum mereka dihentikan oleh polisi. 

"Tubuh pemuda itu hanya berbaring di jalan di bawah selembar kain di luar toko, dan mereka meraung-raung ketika mereka berusaha untuk menghampirinya." 

Tiga remaja, berusia 16, 17 dan 18, telah ditangkap. Mereka dicurigai pelaku pembunuhan. Nedim adalah remaja kedua, dan orang kedelapan, terbunuh di ibukota Inggris ini, sejak dini hari 1 Januari tahun ini.

Ayah Nedim, Nusret, mengatakan, dia diberi tahu bahwa putranya ditikam dengan 'pisau besar' di dadanya. "Dia anakku yang manis, sayang," katanya. “Saya mendapat telepon yang terlewat tadi malam sekitar jam 7 malam dari ibunya, dia mengatakan sesuatu yang sangat buruk telah terjadi padanya dan dia telah terbunuh.

"Nedim tidak mendengarkan saya dan dia tidak mendengarkan ibunya. Dia memiliki beberapa teman buruk yang selalu bermasalah - berkelahi dan banyak hal. Dia adalah bayi saya."

Dugaan awal, penikaman itu terjadi setelah Nedim menolak untuk menyerahkan sepedanya kepada para perampok. Polisi sekarang memeriksa apakah itu terkait dengan geng.

Seorang teman Nedim bersikeras, dia tidak terlibat dalam geng. Dia berkata: "Dia adalah pria yang manis, sangat populer di daerah itu. Ada banyak geng, tetapi dia tidak pernah menjadi bagian dari itu."

Nedim meninggal di Caledonian Road, hanya beberapa meter dari tempat remaja Alan Cartwright dibunuh karena sepedanya pada 2015.

Loading...
Loading...