Selasa, 29 Januari 2019 12:18 WITA

Banjir Bandang Jeneponto: Pelajar Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

Penulis: Zul Lallo
Editor: Mulyadi Abdillah
Banjir Bandang Jeneponto: Pelajar Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai
Para siswa di Jeneponto, harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai pasca Jembatan Munte yang menghubungkan dua desa itu putus diterjang banjir bandang, Selasa (29/1/2019).

RAKYATKU.COM, JENEPONTO - Para siswa Desa Bonto Mate'ne - Desa Mangepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai pasca jembatan yang menghubungkan dua desa itu putus diterjang banjir bandang. 

Agar tak basah, mereka harus melepas sepatu dan kaos kaki. Warga sekitar harus turun memandu mereka agar tidak terjebak ke dasar sungai yang dalam.

Perjuangan belum selesai sampai di situ. Mereka harus menaiki tangga darurat. Satu persatu pelajar ini harus antri memanjat anak tangga agar bisa menggapai badan jalan dan jembatan.

Salah satu pelajar Madrasah Thasanawiah (MTs) Darul Ihsan Munte, Paisal (17) mengaku, arus sungai yang masih keruh membuatnya khawatir dan harus ekstra hati-hati sampai di bibir sungai. Jika kurang berhati-hati, bisa terbawa arus air.

"Kami di sini minta bantuan warga yang bisa membantu atau menuntun agar tidak terjebak arus air," kata Paisal.

Menurutnya, perlu nyali yang besar untuk menyeberangi arus sungai. Mengingat banjir bandang bisa menerjang secara tiba tiba.

"Kalau bisa segera maki bangun jembatan atau paling tidak ada jembatan darurat yang aman untuk menyeberang. Saya khawatir air sungai sewaktu datang secara tiba-tiba," harapnya.

Loading...

Dikatakan, kondisi arus sungai ini sering berubah setiap saat, tergantung kondisi cuaca. Jika terjadi banjir pada sore hari saat pulang sekolah, warga harus menempuh jalur yang lebih jauh.

Seorang guru di MTs Darul Ihsan Munte, Daeng La'lang harus menempuh jalur memutar agar bisa sampai ke tempat kerja. 

"Sekitar satu jam naik motor, belum lagi jalan rusak dan menanjak, ini baru bisa sampai ke sekolah tempat saya mengajar," ucapnya.

Guru tersebut sangat khawatir melihat anak didiknya harus berjuang melewati sungai untuk sampai ke sekolah. Setelah itu, para siswa juga harus menaiki tanjakan sehingga dan bisa saja di antara mereka ada yang tergelincir dan jatuh. Akibatnya sepatu, baju, dan peralatan sekolah lainnya basah.

"Kami berharap jembatan ini bisa segera diperbaiki oleh pemerintah daerah. Ini untuk kenyamanan warga dan anak sekolah saat pergi dan pulang sekolah," pungkas Daeng La'lang.

Loading...
Loading...