Kamis, 17 Januari 2019 08:45 WITA

Siapkan Aksi Bom Bunuh Diri di Gedung Putih, Pemuda Georgia Diciduk FBI

Editor: Aswad Syam
Siapkan Aksi Bom Bunuh Diri di Gedung Putih, Pemuda Georgia Diciduk FBI
Donald Trump

RAKYATKU.COM, GEORGIA - Rabu, 16 Januari 2019. Federal Bureau of Investigation (FBI), menyerbu sebuah rumah di Cumming, Georgia.

Dari dalam rumah, FBI mengamankan seorang pemuda berhidung mancung. Namanya, Hasher Jallal Taheb.

Catatan seorang agen FBI yang tidak disebutkan identitasnya, Taheb ditangkap setelah ia menukar mobilnya dengan senjata. 

Pria itu sudah lama masuk pemantauan FBI. Sebuah laporan dari masyarakat masuk, Taheb sudah diradikalisasi.

Dia pernah hendak berangkat ke Suriah, bergabung dengan ISIS. Namun tidak kesampaian, karena dia tak memiliki paspor.

Dilansir dari Daily Mail. Taheb ditangkap karena berusaha meledakkan gedung putih menggunakan api atau bahan peledak.

Pengacara AS, Byung J. 'BJay' Pak mengatakan, Taheb berencana menggunakan alat peledak improvisasi dan roket anti-tank. Pernyataan tertulis mengatakan, Taheb berencana untuk mati dalam serangan itu.

Pernyataan itu juga menyebutkan, penegak hukum setempat menghubungi FBI pada Maret, setelah mendapat tip dari anggota masyarakat. 

Warga itu mengatakan, Taheb telah diradikalisasi, mengubah namanya dan berencana untuk bepergian ke luar negeri.

Loading...

Tidak segera jelas apakah Taheb memiliki pengacara yang bisa berkomentar.

Agen khusus FBI yang bertanggung jawab atas Kantor Lapangan Atlanta, Chris Hacker, mengatakan, penyelidikan telah memakan waktu satu tahun.

"Penyelidikan terus dilakukan, tetapi pada tahap ini diyakini Taheb bertindak sendiri," katanya. 

Target lain Taheb selain gedung putih, adalah Monumen Washington, Lincoln Memorial dan sebuah sinagog yang tidak disebutkan namanya tetapi spesifik di Washington DC, WSBTV melaporkan. 

Atlanta Constitution-Journal melaporkan, Taheb telah menjual mobilnya pada Agustus, dan berniat melakukan perjalanan untuk hijrah, sebuah istilah Islam untuk emigrasi yang digunakan oleh ISIS, untuk mendorong para pengikutnya untuk pindah ke bekas wilayahnya di Irak dan Suriah.

Hasher tidak dapat melakukan perjalanan, karena dia tidak memiliki paspor. 

Seorang agen FBI menjawab laporan itu, dan mulai menyelidiki hingga berakhir dengan penangkapan Taheb. 

Loading...
Loading...