Senin, 14 Januari 2019 19:16 WITA

Caleg Duafa: Miskin Fulus, Kaya Gagasan

Editor: Mulyadi Abdillah
Caleg Duafa: Miskin Fulus, Kaya Gagasan
Nursandy Syam

PEMILU legislatif kurang lebih tersisa 3 bulan lagi. Waktu yang sangat mahal dan tentunya berharga bagi para calon anggota legislatif yang sedang berkontestasi. Awal tahun 2019, ibarat lari maraton. Ada caleg yang penuh semangat berlari di awal tapi mengalami penurunan stamina di tengah jalan. Ada pula caleg yang tampak pelan bersosialisasi sebelumnya tapi perlahan makin kencang.

Yang pasti, Januari adalah penanda bagi hampir semua para caleg mulai meningkatkan kecepatan berlari menaikkan intensitas sosialisasinya. Berlomba mendapatkan sorak-sorakan dan tepuk tangan yang meriah dari pemilih hingga ke garis finis.

Bagi banyak pihak dan mungkin caleg itu sendiri, rasanya yang memiliki kepantasan untuk berlari kencang hanya bisa dilakukan oleh caleg yang memiliki stamina logistik yang prima. Tentu, alasan itu ada benarnya.

Membuka rute kemenangan bagi caleg memang membutuhkan kecukupan modal baik itu modal gagasan, modal sosial hingga modal ekonomi. Ketiganya merupakan kepingan puzzle yang tak terpisahkan dan satu kesatuan yang utuh.

Lalu, mampukah caleg yang hanya memiliki “fulus” pas-pasan bahkan tak bisa dikatakan cukup, bisa memacu kecepatan dan menyaingi caleg yang memiliki modal yang melimpah? Tentu masih relatif menjawabnya, tapi mutlak akan kesulitan bahkan tertatih dalam mengatur ritme kecepatan.

Biaya politik kita makin mahal, caleg “duafa” atau yang tak siap secara pendanaan untuk berkompetisi tentu sulit memiliki fleksibilitas dalam bergerak. Sebaliknya, caleg yang punya modal berkelimpahan akan lebih punya banyak ruang untuk menentukan volume program dan intensitas kunjungan menemui masyarakat pemilih.

Menyoal peluang terpilih, belum sepenuhnya tertutup. Caleg “duafa” identik dengan segudang gagasan dan memiliki integritas. Gagasan itulah optimisme yang perlu ditonjolkan dan dimassifkan menembus pikiran dan menyentuh hati pemilih.

Gagasan adalah kekuatan utama. Politik gagasan bisa menjadi pembeda dan memberi warna serta harapan bagi pemilih ditengah suramnya wajah parlemen kita.

Momentum ini harus direbut bagi caleg yang kaya gagasan, tawarkan dan cerahkan mindset masyarakat kita. Tunjukkan cara dan pendekatan berpolitik yang seharusnya. Bukankah hari ini, masyarakat sudah semakin cerdas bahkan kita rasakan bersama semakin terang fenomena kejenuhan dan perasaan ”muak” dalam batin masyarakat akan sikap dan perilaku sebagian wakil rakyat dalam menjalankan tugasnya.

Teruslah bertempur gagasan dan merawat semangat kebangsaan!

Penulis: Nursandy Syam
(Manager Strategi Operasional Jaringan Suara Indonesia)