Senin, 31 Desember 2018 05:30 WITA

Batas Waktu Orang Tua Menafkahi Anak dalam Islam

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Batas Waktu Orang Tua Menafkahi Anak dalam Islam
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Kewajiban seorang ayah adalah memberi nafkah kepada anaknya. Ia harus memenuhi segala kebutuhan buah hatinya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. 

Bahkan, kewajiban menafkahi anak ini ditegaskan dalam Alquran. “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut" (QS. Al-Baqarah: 33

Menafkahi anak bagi orangtua merupakan kewajiban yang dibebankan oleh syara’ berdasarkan nilai kasih sayang, sehingga kewajiban ini meski sejatinya dikhususkan bagi ayah, namun kewajiban menafkahi menjadi gugur jika ibu atau orang lain terlebih dahulu memberikan kepada anak (tabarru’) keperluan dan kebutuhan sehari-harinya.

Kadar menafkahi anak tidak ditentukan dalam nominal uang atau ukuran makanan. Sebab, dilansir laman Dream, Senin (31/12/2018), kebutuhan masing-masing anak berbeda-beda berdasarkan usia dan gaya hidupnya.

Secara umum, komoditi yang diperlukan oleh anak biasanya meliputi makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, serta kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat pokok.

Selebihnya hanya bersifat sekunder yang hanya wajib jika anak membutuhkannya, seperti pelayan, barang elektronik dan kebutuhan lainnya (Taqiyuddin Abu Bakar al-Husni, Kifayah al-Akhyar, juz 2, hal. 115).

Pembahasan yang cukup penting untuk diketahui yaitu tentang batas waktu kewajiban orang tua menafkahi anak, sampai kapankah mereka wajib menafkahi anaknya?

Salah satu alasan wajibnya menafkahi anak bagi orang tua adalah dikarenakan tidak mampunya anak dalam bekerja untuk menghasilkan uang atau karena anak sama sekali tidak memiliki simpanan uang yang cukup untuk biaya hidupnya.

Sehingga ketika anak sudah beranjak baligh dan telah mampu untuk bekerja, maka orangtua pada saat demikian sudah tidak wajib untuk menafkahinya, meskipun pada saat itu anaknya masih belum mendapatkan pekerjaan.

Berbeda halnya ketika anak yang telah mampu untuk bekerja sedang dalam tahap mencari ilmu, seperti belajar di pesantren atau institusi pendidikan yang lain, sekiranya jika pendidikannya ditempuh dengan sambil bekerja, maka pendidikannya akan terbengkalai. Dalam kondisi demikian orangtua tetap wajib untuk menafkahi anaknya.