Senin, 24 Desember 2018 20:02 WITA

"Minum Dulu," Pembunuh Sodorkan Teh, Khashoggi Gemetar

Editor: Mays
Pangeran Mohammed bin Salman dan Jamal Khashoggi

RAKYATKU.COM, ISTANBUL - Selasa, 2 Oktober 2018. Jamal Khashoggi memasuki kantor konsulat jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Dia kemudian disambut pasukan pembunuh, dan diarahkan menuju sebuah meja. "Apakah Anda mau minum teh," ujar salah seorang tim eksekutor sambil menyodorkan secangkir teh.

Wartawan berusia 59 tahun itu, menerima teh tersebut dengan gugup. "Terima kasih," terdengar suaranya gemetar.

Itu semua telah terekam dalam alat perekam yang ditanam otoritas Turki di konsulat.

Tidak lama kemudian, seorang anggota 'regu pembunuh' Saudi, dengan dingin mengatakan kepada Khashoggi, dia akan kembali ke Arab Saudi. Lalu menyuntiknya dengan dosis obat penenang yang mematikan.

"Suara Khashoggi terdengar terengah-engah pada rekaman itu," kata para pejabat kepada Washington Post.

Mereka menambahkan, tidak ada yang menggambarkan bahwa tim memiliki niat untuk membuat Khashoggi hidup.   

Laporan lebih lanjut mengutip, mereka yang telah mendengarkan rekaman mengklaim kata-kata terakhir Khashoggi adalah, memberitahu pembunuhnya "Aku tidak bisa bernapas".

Hanya beberapa saat setelah napasnya memudar, keheningan terdengar pada rekaman itu. Kecuali suara gergaji listrik. Itu konsisten dengan laporan, bahwa tubuh Khashoggi terpotong-potong. 

loading...

Jasadnya - diduga telah dilarutkan dalam asam - dan tidak pernah ditemukan. 

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, diyakini oleh banyak orang, telah memberikan perintah untuk pembunuhan Khashoggi. Tetapi, dia telah membantah keterlibatannya.

Kasus ini telah menyebabkan kemarahan global, dan merusak kedudukan internasional putra mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan. 

Minggu lalu, majalah Time memuat Jamal Khashoggi di sampulnya. Menyebut dia bersama tiga jurnalis dan surat kabar lainnya sebagai Person of the Year 2018, karena membela kebenaran dalam menghadapi penganiayaan dan kekerasan. 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, telah berulang kali mengatakan, dia tidak akan menyerah dan mengkritik Riyadh. Karena, berulang kali mengubah ceritanya. 

Turki telah berupaya mengekstradisi 18 tersangka, termasuk 15 anggota skuat pembunuhan. 

Awal bulan ini, Senat AS mengeluarkan resolusi, yang meminta Mohammed bin Salman bertanggung jawab atas pembunuhan dan menyerukan  pemerintah Arab Saudi untuk 'memastikan akuntabilitas yang tepat'.  

Pejabat Saudi telah menolak tuduhan itu. Jaksa penuntut umum Saudi mencari hukuman mati bagi lima tersangka, karena kerajaan berusaha menahan krisis politik terbesarnya selama satu generasi. 

Loading...
Loading...