Rabu, 19 Desember 2018 14:12 WITA

Yulianti, dari Panggung Juara ke Buruh Cuci

Editor: Aswad Syam
Yulianti, dari Panggung Juara ke Buruh Cuci
Yusuf dan Fatimah, memperlihatkan piagam juara yang pernah diperoleh ibunya, Yulianti.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Lorong itu hanya cukup satu motor. Sisanya dengan jalan kaki. Di kiri kanan, warga sibuk membersihkan rumah. Banjir semalam menyisakan lumpur. Jalan itu lorong 15, Jl Cenderawasih, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar.

Jalan menuju rumah seorang mantan juara nasional atlet dayung. Yulianti namanya. Usianya 32 tahun. Dia pernah meraih juara 2 kerjurnas dayung 2004. Sebelumnya juara 2 dayung pada pekan olahraga pelajar nasional 2003. Sekarang dia jadi buruh cuci.

"Rumahnya paling ujung dek yang panggung itu," ujar salah seorang warga, yang merupakan Ketua RT di lorong itu.

Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 50 meter, kami melewati got hitam penuh sampah.

Dari depan, rumah atlet malang ini terlihat reyot.  Pintunya hanya dari seng tua. Lantainya papan hitam yang sudah lapuk. Luasnya pun tak lebih dari tujuh meter. Di rumah itu, dia tinggal dengan suami Arfan dg Lewa (28), juga dua anaknya, Muh yusuf (6) dan Fatimah Azzahra (3).

Mendengar kedatangan kami, Ia datang menyongsong. Lalu mempersilakan masuk. "Dari wartawan ya? Jangan mi buka sepatu ta dek, karena telanjur kotor ji ini rumah," ujarnya sambil mempersilakan kami duduk melantai.

"Bagaimana kabar Bu," ujar kami, sambil melempar senyum kepada anak keduanya. Bocah itu tengah menyantap nasi. Dicampur mi instan yang sedikit berserakan di lantai. 

"Ya begini-begini ji dek, kita lihat sendiri mi," katanya. 

Dia lalu mengarahkan kami melihat seluruh kondisi rumahnya. Sangat memprihatinkan.

Setelah lama berbincang, Yulianti menceritakan balitanya, Aulia (1), yang beberapa bulan lalu meregang nyawa. Penyebabnya gizi buruk. Matanya sembab. Ada bulir bening di kedua ujungnya.

Ia menuturkan, anak bungsunya itu sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Wahidin Sudirohusodo. Lima hari lamanya.

Mirisnya, Yulianti dan anaknya terdaftar sebagai pasien umum, bukan sebagai peserta BPJS.

Otomatis, dia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk pembayaran administrasi.

Loading...

Selama ini, Ia dan keluarganya tak tersentuh bantuan pemerintah.

Ia sangat berharap, anaknya bisa mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat. Apalagi, anak pertamanya tahun depan sudah memasuki sekolah dasar.

"Saya anakku ji ku pikir dek. Mudah-mudahan bisa sekolah dengan baik sampai tinggi. Biar bagus kehidupannya nanti," ujarnya menghapus bulir bening di pipinya yang tirus, dengan punggung tangan.

Yulianti memperlihatkan semua sertifikat dan piagam prestasinya.
 
Dia sangat berharap, bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Agar bisa membantu suaminya. 

Suaminya hanya bekerja sebagai buruh harian, di sebuah proyek pembangunan jalanan.

Ia merasa sedih, karena selama ini tidak mendapat perhatian sedikit pun dari pihak pemangku kebijakan terkait olahraga.

Selama aktif menjadi atlet, dirinya mengaku hanya sering dijanji untuk mendapatkan bantuan. Tetapi tidak ada realisasi hingga saat ini.

Sempat mengonfirmasikan ke pihak Dispora Sulsel, semua penanggung jawab tak di tempat.

Kami pun memutuskan berbincang dengan salah satu staf kantor yang bertugas pada saat itu.

"Kalau sudah lama dia tidak berprestasi mau didapatkan uang dari mana lagi. Sedangkan atlet yang baru saja masih kekurangan anggaran. Yang diprioritaskan itu biasanya yang medali emas," ungkap pria paruh baya itu. (*) 

Penulis: Agung, Umar, Ulfa.

Loading...
Loading...