Senin, 17 Desember 2018 17:07 WITA

Menertibkan Pariwisata Minim Devisa

Editor: Abu Asyraf
Menertibkan Pariwisata Minim Devisa
M Aliem

Oleh: M Aliem

PARIWISATA Nasional sedang diuji. Praktik kotor bisnis perjalanan wisatawan mancanegara asal Tiongkok disinyalir merugikan bisnis pariwisata Bali. 

Paket wisata murah digandrungi, tetapi pada dasarnya hanya menguntungkan pihak tertentu. Wisatawan mancanegara Tiongkok merugi. Bisnis pariwisata Bali pun terkena imbas kerugian. Padahal sektor pariwisata adalah tulang punggung perekonomian Provinsi Bali.

Pelaku bisnis pariwisata di Bali meradang. Pasalnya, ada indikasi wisatawan Tiongkok tidak menyumbang banyak keuntungan terhadap bisnis pariwisata. Pembayaran non tunai dengan aplikasi tertentu dengan syarat hanya belanja di toko yang telah ditetapkan hanya mengalirkan uang kembali ke perusahaan di Negeri Tirai Bambu itu.

Tak hanya praktik itu, survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa jumlah belanja wisatawan asal Tiongkok adalah yang terkecil dibandingkan wisatawan dari negara lain. Padahal, wisatawan asal Tiongkok tercatat menjadi pengunjung terbanyak ke Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,59 persen pada tahun 2017. Sektor pariwisata berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Pariwisata Bali mampu menggerakkan perekonomian di semua sektor lapangan usaha. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada 2017 dicapai oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,25 persen. 

Sektor ini antara lain bergerak di bidang perhotelan dan rumah makan. Banyaknya wisatawan yang berkunjung akan meningkatkan tingkat hunian kamar hotel. Dan tentu saja menyuburkan usaha penyedia makanan dan minuman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, wisatawan mancanegara yang datang ke Bali pada Oktober 2018 sebanyak 517.889 orang. Jika dilihat menurut negara asal, turis Tiongkok menjadi pengunjung terbanyak dibandingkan negara lainnya. Persentasenya mencapai 22,81 persen pada Oktober 2018. 

Wisatawan asal Australia berada di posisi kedua dengan persentase sebesar 20,45 persen dari seluruh turis asing yang liburan ke Bali.

Secara kumulatif, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pada periode Januari hingga Oktober 2018 mencapai 5,16 juta orang. Turis asal Tiongkok berada pada posisi teratas sebanyak 1,2 juta orang atau 23,37 persen dari total wisatawan mancanegara yang berlibur ke Bali. 

Loading...

Sungguh disayangkan jika tidak ada kontribusi mereka terhadap ekonomi wisata Bali. Secara kuantitas, wisman Tiongkok memang tinggi. Tetapi secara kualitas tidak memberikan banyak sumbangsih terhadap perekonomian di Bali. 

Kondisi ini bisa merambat ke banyak hal jika tidak ditangani dengan bijak. Termasuk akan memengaruhi masalah ketenagakerjaan yang berujung pada tingkat pengangguran. 

Padahal, selama ini sektor pariwisata menjadi roda penggerak perekonomian Bali. Semua sektor lapangan usaha kecipratan untung dari bisnis pariwisata. Tenaga kerja yang berasal dari luar Bali pun tertarik datang ke Bali untuk mengadu nasib.

Dari segi ketenagakerjaan, angka pengangguran di Bali tercatat paling rendah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode Agustus 2018, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Bali kembali turun dari periode sebelumnya. BPS mencatat TPT di Bali sebesar 1,37 persen pada Agustus 2018, mengalami penurunan 0,11 poin dibandingkan TPT Agustus 2017. Namun mengalami kenaikan 0, 51 poin dibandingkan periode Februari 2018.

Sektor pariwisata mampu mereduksi jumlah pengangguran. Bali dan Yogyakarta yang terkenal dengan destinasi wisata merupakan dua daerah yang memiliki angka pengangguran rendah di Indonesia. Dua daerah ini tidak asing lagi di dunia pariwisata internasional. Karena itu, pemerintah terus meningkatkan sektor pariwisata nasional di daerah lain. 

Salah satunya dengan membuka 10 destinasi Bali baru di provinsi lain untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara. Dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan tentu saja perekonomian negara.

Untuk itu, praktik wisata yang merugikan seperti ini mesti segera ditindak. Karena hanya menimbulkan masalah terhadap pariwisata Bali. Modus nakal penjualan wisata murah ke Bali juga tidak memberikan keuntungan kepada pengusaha lokal. Ini disebabkan karena para turis itu sudah diarahkan ke toko-toko tertentu untuk berbelanja. Sistem pembayarannya pun non tunai sehingga uang kembali mengalir ke negara asal mereka.
 
Langkah yang diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini sudah tepat, yaitu dengan menertibkan agen perjalanan nakal yang menjual murah paket wisata Bali. Tidak hanya itu, toko-toko yang disinyalir melakukan pelanggaran dan monopoli  juga ditertibkan. 

Langkah ini mungkin akan menggerus jumlah wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke Bali. Namun hal ini akan menjadikan pariwisata Bali lebih berkualitas dan tidak hanya mengejar kuantitas pengunjung semata.

Pemerintah daerah dan pelaku usaha kreatif di Bali juga perlu mengenali kebutuhan barang apa saja  yang digemari oleh para turis asing untuk dijadikan buah tangan. Sehingga dapat menggenjot produksi usaha kecil menengah yang bergerak di bidang ekonomi kreatif. Seperti hasil kerajinan/kriya, lukisan, dan barang bernilai ekonomi tinggi lainnya. Upaya ini dapat menambah pendapatan pemerintah dan tentu juga masyarakat setempat. Dengan begitu, sektor pariwisata betul-betul akan menjadi penopang perekonomian nasional.


*M Aliem adalah kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
 

Loading...
Loading...