Selasa, 11 Desember 2018 16:45 WITA

Soal Amnesti Open Suspend, Driver Online di Makassar Tak Sepaham

Editor: Andi Chaerul Fadli
Soal Amnesti Open Suspend, Driver Online di Makassar Tak Sepaham
dok. FDOKT

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Forum Driver Online Kelas Teri (FDOKT) meminta amnesti kepada Grab Indonesia untuk membuka penangguhan mitra atau open suspend secara massal. Sikap itu menuai respons dari sesama mitra operator transportasi online yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) Driver Grab Makassar.

Forkom Driver Grab menilai tuntutan itu bisa merugikan driver individu lainnya. "Ini (open suspend) kalau dibiarkan bisa merugikan driver individu sendiri," kata pendiri Forkom Driver Grab Makassar, Akhmad Khaerul, Selasa (11/12/2018).

Akhmad menjelaskan, membuka penangguhan status mitra bisa berdampak pada performa driver online lainnya. 

"Saat ini dari segi pencapaian trip sudah bagus, performa juga bagus. Kalau open suspend malah bisa mempengaruhi performa. Kalau yang tembak-tembak (orderan fiktif) itukan bisa pengaruhi performa," tambahnya.

Forkom Driver Grab Makassar sendiri secara tegas menolak sepaham dengan rekan-rekan sesama drivernya di FDOKT. "Inikan sama saja orang ditahan di Lapas (lembaga pemasyarakatan), terus minta dibebaskan," jelas dia.

Akhmad juga memaparkan, pihak Grab sendiri telah mengembalikan status beberapa mitra driver. "Dulu pernah minta open suspend. Sekitar tiga bulan lalu," kata dia.

Ketua FDOKT, Herman Mustafa mengakui hal itu. Dia bilang, pihak Grab telah membuat perjanjian bersama perwakilan forum driver pada Agustus lalu. 

Hasilnya, penangguhan status mitra hanya dilakukan pada driver yang tidak tersangkut kasus pelecehan seksual dan sindikat driver yang melakukan order fiktif. Sayangnya, keputusan itu tidak serta merta diterima Herman dan kawan-kawan.

"Kalau pelecehan seksual oke, forum driver terima. Tapi disebut sindikat driver itu perlu diperjelas," kata dia. 

loading...

Menurutnya, sebagian besar driver berusaha mencukupkan jumlah trip untuk mendapatkan bonus. Kalau bonus tidak dapat, maka driver rugi secara operasional.

Pria yang akrab disapa Eeng ini tak menampik ada beberapa driver yang melakukan hal itu. Namun orderan fiktif itu, bagi dia, disebabkan kebijakan Grab sendiri yang menurunkan skema insentif secara sepihak.

"Mungkin beberapa driver frustasi dengan kondisi itu. Dulunya Grab terus menerima pendaftaran baru, sehingga bertambah banyak mitra driver. Membuat jumlah driver dengan permintaan order penumpang tak seimbang. Sehingga sulit mencukupkan trip untuk dapat bonus. Makanya beberapa driver mengakui terpaksa melakukan itu," jelas dia.

Eeng mengungkapkan, hal itu yang mendasari FDOKT meminta amnesti open suspend. Dia juga mendesak pihak Grab untuk menepati surat perjanjian yang dimaksud dengan menggelar unjuk rasa pagi tadi.

Massa dari FDOKT mendatangi kantor Grab di Makassar sejak pukul 10.00 Wita. Mereka diterima perwakilan Grab. 

"Grab Makassar berjanji menyampaikan masalah ini ke kantor pusat. Respon kantor pusat ditunggu dalam waktu dekat beberapa hari kedepan," kata Herman.

Selain kantor Grab, massa driver juga mendatangi kantor Gubernur Sulsel pada pukul 15.00 Wita untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Loading...
Loading...