Minggu, 09 Desember 2018 09:45 WITA

Dilarang Istri Kembali ke Nduga, Samuel: Tidak Enak Tinggalkan Teman-Teman

Editor: Abu Asyraf
Dilarang Istri Kembali ke Nduga, Samuel: Tidak Enak Tinggalkan Teman-Teman
Keluarga histeris menyambut jenazah Samuel Pakiding.

RAKYATKU.COM - Rabu, 14 November 2018. Telepon seluler Agus Rudia Pasa berdering. Di layar tampak Samuel Pakiding memanggil.

Samuel adalah suami Agus. Dia berangkat ke Papua pada 13 Oktober untuk bekerja pada proyek jalan lintas Papua di Kabupaten Nduga. Di sana tak ada sinyal telepon seluler.

Makanya, mereka jalan komunikasi. Pada 14 November itu, kebetulan Samuel turun ke Timika. Dia sempatkan untuk menelepon istrinya. Mereka ngobrol panjang. Termasuk situasi kerja di Nduga.

"Dia bercerita, dia sangat hati-hati di sana. Dia tidak berani macam-macam karena jika ada masalah walau sepele akan berujung penumpasan," ujar Agus menirukan Samuel seperti dikutip dari Kompas.com.

Saat itu, firasat Agus langsung tidak enak. Dia sempat melarang Samuel kembali ke Nduga. Agus memaksa Samuel untuk menetap di Timika dan mencari pekerjaan lain. Kebetulan Samuel mengaku dapat tawaran kerja borongan membangun sekolah di Timika.

"Saya setuju sekali. Saya bilang tidak usah naik ke Nduga lagi, kerja saja bangun sekolah," tutur Agus.

Namun, Samuel menolak. "Dia bilang tidak enak meninggalkan teman-temannya. Jadi dia naik lagi dan meneruskan pekerjaan bersama PT Istaka Karya," lanjut Agus.

Tidak disangka, percakapan itu adalah percakapan terakhir antara Agus dan Samuel. Pada Senin (3/12/2018) Agus mendapat kabar penembakan 31 pekerja PT Istaka Karya di Nduga, Papua, oleh kelompok sparatis. 

Dia tidak percaya, dan terus meyakini suaminya masih hidup. Bersama anak-anak dan keluarga lainnya, Agus terus berdoa untuk keselamatan Samuel. Naas, beberapa hari setelah itu, kabar kematian Samuel sampai ke telinganya. 

"Hati saya hancur, waktu mendengar kabar penembakan itu. Saya bingung harus menghubungi siapa. Saya tidak tahu lagi, berhari-hari saya nantikan kabar keselamatannya. Waktu bosnya telepon pada hari Rabu, kaki saya seperti sudah melayang," ungkapnya.

Harapan Samuel bisa berkumpul merayakan Natal bersama di Jahab, seketika sirna. Kenangan hidup bersama Samuel, menjadi tangis pilu seluruh keluarga. Hanya doa, dan keyakinan perlindungan Tuhan yang menjadi kekuatan Agus untuk tetap hidup melanjutkan perjuangan membesarkan anak-anaknya seorang diri. 

"Saya ikhlas, dia pergi. Saya yakin Tuhan sedang menuntunnya menuju surga. Saya percaya, Tuhan tidak akan membiarkan saya dan anak-anak kelaparan. Kami akan tetap berjuang untuk dia," katanya. 

Agus belum memastikan kapan Samuel akan dikebumikan. Agus masih menunggu kedatangan keluarga besar Samuel dari Tana Toraja. Rencananya, setelah kumpul dan rapat keluarga, barulah Samuel dapat dikuburkan dengan prosesi adat Toraja.

Jenazah Samuel Pakiding disemayamkan di rumah duka di Jalan Tengko Situru RT 25 KM 5 Bukit Sion, Jahab, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

"Dia laki-laki terbaik, bapak terhebat dan suami yang luar biasa. Dia mencari uang untuk menafkahi anak istrinya. Meski jauh dan berbahaya, tapi dia tetap pergi. Karena dia yakin, semua akan baik-baik saja,” tutur Agus. 

Samuel meninggalkan empat anak. Anak pertama berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMP, sementara yang paling kecil masih balita berusia tiga tahun.