Minggu, 09 Desember 2018 08:45 WITA

Jutaan Warga Malaysia Turun ke Jalan, Mahathir: Terima Kasihlah

Editor: Abu Asyraf
Jutaan Warga Malaysia Turun ke Jalan, Mahathir: Terima Kasihlah
Seolah ikut-ikutan renuni 212 di Monas, Jakarta, warga Malaysia juga tumpah ruah ke jalan-jalan di Kuala Lumpur, pada Sabtu (8/12/2018).

RAKYATKU.COM - Seolah ikut-ikutan renuni 212 di Monas, Jakarta, warga Malaysia juga tumpah ruah ke jalan-jalan di Kuala Lumpur, pada Sabtu (8/12/2018). Aksi itu mereka namakan Himpunan Aman 812.

Demonstran 812 melakukan unjuk rasa untuk merayakan penolakan Pemerintah Malaysia untuk meratifikasi konvensi PBB terkait diskriminasi rasial.

Media Malaysia, Astro Awani melaporkan pernyataan Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad terkait aksi itu.

"Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad secara sinis mengucapkan terima kasih kepada peserta yang hadir ke himpunan kesyukuran atas keputusan kerajaan menolak ratifikasi ICERD," tulis Astro Awani seperti dilihat Rakyatku.com, Minggu (9/12/2018).

"Perhimpunan hari ini telah dihadiri oleh satu juta orang dan saya ucap terima kasih kepada mereka kerana mereka berkumpul untuk kesyukuran. Satu juta orang, terima kasihlah," kata Mahathir sambil tersenyum.

Warga Muslim Melayu Malaysia turun ke jalan-jalan di ibu kota Kuala Lumpur pada Sabtu (8/12/2018). Demonstran 812 itu melakukan unjuk rasa untuk merayakan penolakan Pemerintah Malaysia untuk meratifikasi konvensi PBB terkait diskriminasi rasial.

Setelah mendapat tekanan dari kelompok-kelompok pro-Melayu selama pekan-pekan, pemerintahan multi-etnis Perdana Menteri Mahathir Mohamad bulan lalu memutuskan untuk tidak meratifikasi konvensi tersebut. Tidak jelas mengapa ratifikasi ditolak mengingat adanya komitmen awal untuk menandatangani.

Kelompok-kelompok mewakili etnis Melayu, yang mencakup sekitar 60 persen dari populasi multi-etnis Malaysia, menyatakan kekhawatiran jika meratifikasi konvensi PBB itu dapat mengancam hak-hak orang Melayu. Konvensi itu juga ditakutkan dapat mengancam status Islam sebagai agama resmi Malaysia.

Partai-partai oposisi Melayu banyak yang mengangkat masalah ini. Bersama dengan para aktivis, mereka mengatur unjuk rasa, karena ras adalah salah satu masalah yang sensitif bagi negara Asia Tenggara yang berpenduduk 32 juta orang itu.

Unjuk rasa itu turut dihadiri mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Ketua Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) Ahmad Zahid Hamidi. Selain itu pemimpin Parti Islam Se-Malaysia (PAS) juga ikut turun ke jalan.

Para pendukung mereka mengenakan pakaian putih dan berkumpul di alun-alun Merdeka di ibu kota Kuala Lumpur. Beberapa orang meneriakkan "Allahu Akbar" dan slogan-slogan menentang konvensi PBB, sambil memegang spanduk-spanduk yang menyerukan untuk membela hak-hak dan martabat etnis Melayu.

"Kami di sini untuk membela hak kami sebagai orang Melayu," kata Faridah Harun (59 tahun), seorang ibu beranak tujuh, yang melakukan perjalanan dari Negara Bagian Perak untuk bergabung dalam unjuk rasa dengan suaminya.

"Kami telah memerintah negara ini dengan sangat baik untuk waktu yang sangat lama, tetapi sekarang ada orang-orang yang ingin mengambil alih dan melakukan hal-hal seperti menutup MARA," kata dia, mengacu pada dana perwalian untuk orang Melayu dan pribumi.

Kebijakan afirmatif yang diperkenalkan setelah kerusuhan ras yang mematikan pada akhir 1960-an, memberikan keuntungan bagi etnis Melayu, termasuk kuota lebih di universitas, diskon perumahan, rencana tabungan yang dijamin pemerintah, dan kuota kepemilikan saham.

Koalisi Mahathir diketahui telah mendapatkan dukungan luar biasa dari minoritas etnis China dan India yang bersama-sama mencapai 30 persen dari populasi. Namun koalisi tetap bertempur untuk memenangkan suara orang-orang Melayu yang tetap setia kepada UMNO dan PAS.