Rabu, 05 Desember 2018 12:55 WITA

AS dan NATO Beri Rusia 60 Hari untuk Patuhi Pakta nuklir

Editor: Suriawati
AS dan NATO Beri Rusia 60 Hari untuk Patuhi Pakta nuklir
Sekretaris Negara AS Mike Pompeo

RAKYATKU.COM - Sekretaris Negara AS Mike Pompeo secara resmi mengumumkan niat Amerika untuk meninggalkan pakta nuklir era Perang Dingin.

Seperti yang disuarakan Presiden Donald Trump Sebelumnya, Pompeo menuduh Rusia telah melakukan kecurangan dengan melanggar kesepakatan itu.

Dalam sebuah konferensi pers di markas NATO pada hari Selasa (04/12/2018) Pompeo mengatakan bahwa Rusia memiliki waktu 60 hari untuk menunjukkan kepatuhan. Jika tidak, maka tidak ada lagi alasan bagi AS untuk komitmen pada perjanjian itu.

"Kami juga mengubur kepala kami di pasir, atau kami mengambil tindakan akal sehat sebagai tanggapan atas pengabaian mencolok Rusia terhadap ketentuan perjanjian INF," kata Pompeo pada konferensi pers di markas NATO.

Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) ditandatangani pada tahun 1987 oleh Presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

Perjanjian itu melarang AS dan Rusia untuk memiliki rudal jelajah berbasis darat yang dapat menyerang dalam jarak 500 hingga 5.500 kilometer.

Dalam pernyataannya, Pompeo menuduh Rusia melakukan kecurangan dalam hal kontrol senjata. Dia menyebutkan daftar panjang dugaan pelanggaran Rusia di seluruh dunia, termasuk di Georgia, Ukraina dan Suriah.

Dia juga menunjuk upaya Rusia untuk membunuh mantan mata-mata Sergei Skripal dengan agen saraf di Inggris, serta insiden baru-baru ini dengan kapal angkatan laut Ukraina di selat Kerch.

Para menteri luar negeri anggota NATO telah memberikan dukungan penuh mereka pada AS.

"Kami meminta Rusia untuk segera kembali menunjukkan kepatuhan penuh dan dapat diverifikasi," demikian pernyataan dari NATO. "Sekarang terserah Rusia untuk mempertahankan Perjanjian INF."

Batas waktu 60 hari diberikan atas permintaan anggota Eropa untuk memberi waktu bagi Rusia untuk kembali mematuhi aturan.

Pompeo mengatakan AS akan menyambut biat baik Rusia.

"Kami sudah berbicara banyak dengan Rusia," kata Pompeo. “Kami berharap mereka akan berubah, tapi belum ada indikasi sampai saat ini bahwa mereka memiliki niat untuk melakukannya.”

Menanggapi pengumuman AS, juru bicara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, mengatakan kepada kantor berita TASS bahwa "Rusia dengan saksama mematuhi ketentuan perjanjian, dan pihak AS tahu itu."

Tuduhan Pelanggaran Rusia
Pada 2017 pejabat keamanan nasional Gedung Putih mengatakan Rusia telah menempatkan rudal jelajah yang melanggar perjanjian.

Sebelumnya, pemerintahan Obama menuduh Rusia melanggar perjanjian dengan mengembangkan dan menguji rudal jelajah yang dilarang.

Namun Rusia telah berulang kali membantah jika mereka telah melanggar perjanjian itu.

Pompeo mengatakan bahwa Rusia telah melakukan uji coba penerbangan rudal jelajah SSC-8 sejak pertengahan 2000-an, dan rentangnya melebihi yang diizinkan INF.

"Jaraknya membuatnya menjadi ancaman langsung ke Eropa," kata Pompeo.

"Jawaban Rusia konsisten: menyangkal melakukan kesalahan apa pun, menuntut lebih banyak informasi, dan mengeluarkan tuduhan kontra yang tidak berdasar," kata Pompeo.

Dia mengatakan Rusia terus menekan dan telah mengisi beberapa batalyon rudal SSC-8.

"Jika Rusia mengakui pelanggarannya dan sepenuhnya diverifikasi telah patuh, kami tentu saja akan menyambut baik tindakan itu," kata Pompeo.