Senin, 03 Desember 2018 16:04 WITA

Tanpa Incumbent, Begini Komposisi Ideal Komisioner KPU Makassar Versi Nurani Strategic

Penulis: Rizal
Editor: Nur Hidayat Said
Tanpa Incumbent, Begini Komposisi Ideal Komisioner KPU Makassar Versi Nurani Strategic
Ilustrasi. (IST)

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Tahapan pemungkas seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar telah dihelat. Hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) para calon komisioner pun sudah ada di tangan KPU RI.

Pekan depan, lima besar komisioner definitif KPU Makassar periode 2018-2023 tersebut dijadwalkan akan diumumkan. Satu yang pasti, komposisi KPU Makassar saat ini tak diisi lagi oleh incumbent atau petahana. 

Dua incumbent yang kembali mendaftar hanya lolos sampai tahap tes kesehatan dan tes wawancara. Kedua petahana, yakni Rahma Saiyed dan Abdullah Manshur tak satupun yang bertahan, keduanya dinyatakan gugur.

Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, menganggap keputusan Tim Seleksi (Timsel) tak mewadahi lagi petahana di KPU Makassar sebagai keputusan yang tepat. Sebab, menurutnya, mereka selama ini dianggap tak begitu sukses menjalankan amanah sebagai penyelenggara kontestasi demokrasi di Kota Makassar. 

"Sebenarnya komposisi dengan sistem keterwakilan segmen, termasuk harus ada petahana, sudah tak relevan lagi. Yang paling utama adalah komisioner yang terpilih punya integritas yang kuat untuk menjalankan tugasnya itu," tuturnya kepada Rakyatku.com, Senin (3/12/2018).

Menurut Nurmal, integritas para calon komisioner bisa dibuktikan dengan menelusuri track record mereka selama ini. "Mereka haruslah figur bersih dan punya catatan perjalanan bagus di organisasi dan segala aktivitasnya di masyarakat. Ia harus independen yang bisa dibuktikan dengan tak adanya hubungan langsung sang calon dengan figur-figur politik selama ini," tambahnya.

Loading...

Nurmal yang juga mantan Ketua KPU Makassar ini melihat bahwa meski tanpa petahana, beberapa calon yang masuk dalam 10 besar untuk KPU Makassar adalah figur-figur yang punya pengalaman mengenai teknis kepemiluan. Alasannya, mereka sebelumnya sudah bergelut di KPU Makassar meski bukan sebagai komisioner.

"Saya melihat dalam 10 besar ada dua atau tiga figur dengan kemampuan teknis kepemiluan yang bagus karena merupakan mantan orang KPU Makassar. Calon seperti ini perlu diberi tempat karena persoalan teknis, seperti misalnya sistem pemungutan dan penghitungan suara tak bisa dipelajari dengan cepat," katanya.

Dengan komposisi tanpa petahana ini, menurut Nurmal, merupakan peluang bagi figur-figur yang sebelumnya telah menjadi penyelenggara Pemilu untuk diberi kesempatan menjadi komisioner. 

"Tak ada masalah (tanpa petahana), KPU itu sudah punya sistem yang berjalan dengan sendirinya meski siapa pun komisionernya," pungkasnya.

Loading...
Loading...