Sabtu, 24 November 2018 11:23 WITA

OPINI

Guru, Patriot Tanpa Tanda Jasa

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Guru, Patriot Tanpa Tanda Jasa
Armin Mustamin Toputiri.

"Terpujilah wahai lewat ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu. Engkau sabagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa ".Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu. Engkau sabagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa".

***

Pada mulanya adalah murid, kali giliran selanjutnya menjadi guru. Terus bergulir, kelak mewujud yang di diri setiap sosok manusia adalah guru, dan juga adalah murid. Itu sebab, tiada seorang pun tanpa guru. Dan tak seorang pun tanpa murid.

Satu manusia dengan manusia lainnya, proses alami transformasi. Berlangsung proses belajar-mengajar. Entah formal atau informal. Dari tidak tahu menjadi tahu. Entah untuk kepuasan atau entah keburukan. Dan atau entah benar atau pamrih. Tapi guru tetaplah "Sang Pencerah" peradaban.

Prosesnya berlangsung secara alamiah, akibatnya tak ada yang disebut "bekas guru" apalagi jika menyebutnya "guru bekas". Juga tidak ada "bekas murid" ataukah "murid bekas". Prosesnya, di antara guru dan murid, ada dialektika. Dan di situ ada proses pembelajaran. Proses pencerahan yang memiliki nilai. Nilai universal. Tak berbatas oleh ruang dan waktu. Tak berbahan tapi berbekas. Monumental tak lekang oleh waktu. Sepanjang hayat tak terhapus, karena tak ada dasar yang bisa menghapusnya. Karena itu, guru tetap mengiringi tarikan nafas setiap murid. Menghantarnya hingga nafas terakhir.

Ajaran guru adalah prasasti yang tak lekang oleh ruang dan waktu. Andai kelak murid telah memaut, maka ajaran tak ikut mati. Tetap hidup bertransformasi sesuai kebutuhan zamannya. Karl Heinrich Marx wafat di London, 14 Maret 1883, tapi ajaran marxisismenya hingga kini tetap saja menggeliat. Guru fisika, sang pengajar teori "heliosentris", Galileo Galillei, ia telah wafat di Arcetri, Italia, 8 Januari 1642, tapi rumus "phytagoras" -nya tidak ikut mati, tepatnya tetap diakui pembenarannya.Karl Heinrich Marx wafat di London, 14 Maret 1883, tapi ajaran marxisismenya hingga kini tetap saja menggeliat. Guru fisika, sang pengajar teori "heliosentris", Galileo Galillei, ia telah wafat di Arcetri, Italia, 8 Januari 1642, tapi rumus "phytagoras"-nya tak ikut mati, justru tetap diakui pembenarannya.

***

Guru memang tidak berbatas pengertiannya pada pemahaman jamak di UU No.14 / 2005 tentang Guru dan Dosen, yaitu mereka pendidik dengan tugas utama mendidik, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pendidikan formal. Tapi guru memiliki pengertian luas. Wikipedia.com, merilis kata guru berasal dari bahasa Sansakerta "guhru", pengajar ilmu. Agama Hindu, memahami guru sebagai simbol tempat suci dan berilmu (vidya), juga pembagi ilmu.Wikipedia.com, merilis kata guru berasal dari bahasa Sansakerta "guhru", pengajar suatu ilmu. Agama Hindu, memahami guru sebagai simbol tempat suci dan berilmu (vidya), juga pembagi ilmu.

Seorang guru adalah pemandu spiritual dan kejiwaan bagi murid-muridnya. Lalu agama Budha, memahami guru sebagai pemandu menuju jalan kebenaran, itu karena murid adalah guru jelmaan Budha, "Bodhisattva". Lalu di agama Sikh, sama dianut ummat Hindu dan Buddha, meskipun lebih penting lagi, karena inti Sikh, percaya pada ajaran Sepuluh Guru Sikh. Guru pertama, Nanak Dev diakui pendiri agama. Dan Bagi orang India, Cina, Mesir dan Israel menerima pengkajian dari guru yang merupakan seorang imam yang menjadi tauladan dalam berprilaku. Bodhisattva". Lalu di agama Sikh, sama dianut ummat Hindu dan Buddha, meski posisinya jauh lebih penting lagi, karena inti ajaran Sikh, percaya pada ajaran Sepuluh Guru Sikh. Guru pertama, Nanak Dev diakui pendiri agama. Dan Bagi orang India, China, Mesir dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam yang menjadi tauladan dalam berprilaku. 

Loading...

Bagi penganut Islam, guru dikenal dengan penamaan Syekh, Mursyid, Kiyai, Anang Guru dan penamaan lain, yaitu orang yang sangat nyata dan disegani, bahkan dimuliakan karena memiliki keilmuan dan nilai tertentu. Dijulang masyarakat tempat bertanya dan mengadu. Juga karena penghormatan berlebih, guru dianggap jalan mendapatkan yang terbaik. Di Thailand, masyarakat memberlakukan budaya Wai Khru (guru terhormat).

Selain alasan religi, guru kehormatan adalah hal lumrah dan fakta bahwa guru adalah salah satu yang memberi warna dan arah dalam kehidupan masyarakat Thailand.Mursyid, Kiyai, Anang Guru dan penamaan lain, yaitu orang yang sangat dihormati dan disegani, bahkan dimuliakan karena memiliki keilmuan dan nilai tertentu. Dijadikan masyarakat tempat bertanya dan mengadu. Bahkan karena penghormatan berlebih, guru dianggap jalan mendapatkan keselamatan. Di Thailand, masyarakat memberlakukan budaya Wai Khru (menghormati guru). Selain alasan religi, menghormati guru adalah hal lumrah dan seharusnya karena guru adalah salah satu unsur yang memberi warna dan arah dalam kehidupan masyarakat Thailand.

***

Guru adalah "Sang Pencerah". Pemantik lentera cermin, dari gulita menuju terang. Tempat bertanya, dari tidak tahu menjadi tahu. Pembuka jendela peradaban ketauladanan. "Guru membungkam murid kencing berlari". Pepatah klasik bukan untuk mengolok, tetapi memberi arti berat dan mulianya peran guru. Menjadi kiblat prilaku para muridnya. Tak lain karena guru terlanjur kita jadikan kem gradi. "Patriot Tanpa Tanda Jasa". 

Lalu mengapa sekolah pencetak guru formal, SGA, SGB, PGA, STO dan lainnya, mengapa tepatnya menghilang? IKIP saja telah berubah wujud universitas. Jangan-jangan kita tak lagi memuliakan guru? Durhaka!

Sabtu, 24 November 2018

(Penulis: Armin Mustamin Toputiri)
 

Loading...
Loading...