Minggu, 18 November 2018 18:13 WITA

Begini Cara Hitung Ongkos Ideal Caleg Hingga Hari Pencoblosan, Versi Nurani Strategic

Penulis: Rizal
Editor: Aswad Syam
Begini Cara Hitung Ongkos Ideal Caleg Hingga Hari Pencoblosan, Versi Nurani Strategic
Nurmal Idrus

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kontestasi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, tersisa kurang lebih lima bulan lagi. Seluruh kontestan yang akan bertarung, mulai menjajal Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing. Memikat calon pemilih dengan berbagai cara, tentunya sesuai aturan yang berlaku.

Mereka bertaruh bukan hanya waktu dan tenaga, tapi juga materi. Bukan rahasia umum lagi, maju menjadi calon anggota legislatif (caleg) butuh ongkos politik (political cost). Nominalnya beragam, namun dari tahun ke tahun diklaim semakin meningkat.

Terkait ongkos politik caleg ini, Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus punya analisis tersendiri. Menurutnya, tak bisa menentukan nominal pasti dari biaya seorang caleg mengarungi ajang Pileg. Sebab, katanya, ada faktor dominan yang mempengaruhi besar kecilnya dana yang harus dikeluarkan seorang caleg.

"Untuk menghitung biaya yang harus dikeluarkan caleg, tentu sangatlah relatif. Sebab, keterpilihan seseorang diyakini bukan hanya karena faktor dana. Ada caleg yang membutuhkan dana besar, karena merasa popularitas dan keterpilihannya masih rendah, dan untuk itu ia harus meningkatkan intensitas kampanye berlipat lipat untuk meraih peningkatan keterkenalan," tuturnya kepada Rakyatku.com, Minggu (18/11/2018).

Menurut Nurmal, popularitas dan tingkat keterpilihan yang masih rendah tersebut, merupakan faktor utama meningkatnya pengeluaran seorang caleg. Sebab, menurutnya, tak banyak opsi yang bisa dipilih oleh seorang caleg untuk mengejar ketertinggalannya, selain mengintenskan kampanye yang tentu akan menguras pundi-pundi keuangannya. 

Hal ini, lanjut Nurmal, terutama dialami para caleg yang baru pertama kali menjajal ajang Pileg.

"Itu faktor dominannya. Tak banyak cara yang bisa dilakukan caleg, terutama caleg baru selain melipatgandakan kampanye, untuk mengatasi ketertinggalan keterkenalannya. Faktor lainnya, juga karena strategi mereka. Apakah mereka mau bermain di wilayah lebar dengan banyak TPS (Tempat Pemungutan Suara) atau bermain sempit dengan efektif di sebagian TPS," jelasnya.

Nurmal mengaku punya cara tersendiri untuk menghitung ongkos politik tersebut, terutama anggaran yang dihabiskan selama tahapan kampanye. Metode tersebut dengan menjumlahkan perkiraan biaya sosialisasi, dengan jumlah pemilih dan TPS yang jadi prioritas sang caleg.

"Cara terbaik untuk menghitung anggaran kampanye, adalah seberapa banyak jumlah pemilih dan TPS. Seorang caleg bisa menghitung anggarannya dengan basis TPS, yang disesuaikan dengan jumlah pemilih yang ditarget di TPS itu. Kisaran biaya dengan menggunakan koefisien TPS itu, kira-kira berada di angka 2-3 juta per TPS," ungkapnya.

Lalu item apa yang paling banyak menyerap biaya? Mantan Ketua KPU Makassar ini melihat, Alat Peraga Kampanye (APK) sebagai item pokok yang menggerus anggaran seorang caleg.

"Pengeluaran paling besar menurut saya, ada di pengadaan alat peraga kampanye, maintenance tim dan popularitas serta electability building," tutupnya.