Jumat, 16 November 2018 17:04 WITA

Macet Parah di Pettarani, Ini Kata Pakar

Penulis: Himawan
Editor: Aswad Syam
Macet Parah di Pettarani, Ini Kata Pakar
Lambang Basri Said

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pengerjaan proyek pembangunan tol layang di sepanjang jalan AP Pettarani kini memicu sejumlah kemacetan parah di beberapa titik tertentu. Bahkan, kemacetan itu bagi sebagian pengguna jalan yang melintas menganggap jalan AP Pettarani bak neraka. 

Ahli transportasi dari Universitas Muslim Indonesia, Lambang Basri Said menilai, rekayasa lalu lintas atau jalur-jalur alternatif yang disediakan pemerintah memang bukan upaya solutif, untuk menghindarkan kemacetan di wilayah itu. 

"Pemindahan jalur alternatif itu sendiri akan menimbulkan kemacetan baru. Jadi belum mengatasi masalah secara keseluruhan,"kata Lambang saat diwawancara Rakyatku.Com, Jumat (16/11/2018).

Menurut Lambang, seharusnya pihak kepolisian dalam hal ini polantas, dinas perhubungan dan pelaksana proyek, harus berkoordinasi untuk mengatasi kemacetan parah yang terjadi. Dia mengharapkan, ketiga stakeholder itu bisa melihat penyebab kemacetan selain pengerjaan proyek. 

Lambang menilai, masih ada juga pergerakan di tepi jalan Pettarani, yang juga bisa membuat kemacetan bertambah. Misalnya adanya stan pedagang kaki lima di trotoar. 

"Dalam proses pergerakan di Pettarani itu sendiri, tidak boleh lagi ada hambatan-hambatan samping. Itu mesti diantisipasi sebagai bentuk dari hasil analisis dampak lalu lintas itu," imbuhnya.

Lambang juga mengatakan, pelaksana proyek jalan tol layang di Jalan AP Pettarani, harus memaksimalkan manajemen waktu dan manajemen ruangnya. Misalnya saja, untuk kendaraan besar seperti truk dan bus, seharusnya pemerintah memberlakukan waktu lintasannya di malam hari. 

Begitu pun dengan kendaraan seperti becak, gerobak, dan bentor. Menurutnya, ketiga kendaraan ini bisa melintasi jalur alternatif lain, agar kemacetan bak neraka di Jalan AP Pettarani bisa terhindarkan. 

"Terkait manajemen waktu, kalau mungkin itu truk-truk yang lain juga termasuk bus bus itu harus dihindarkan di siang hari. Truk dan bus itu harus melintas di malam hari," tutur Lambang. 

Terkait saling lempar tanggung jawab yang dilakukan para stakeholder, untuk mengurai kemacetan di Pettarani, Lambang menilai seharusnya hal itu tidak terjadi. 

Jika ingin bekerja keras, kata Lambang, seharusnya pelakasana proyek sadar dengan tugasnya untuk juga berada di tempat-tempat krusial, yang macetnya sangat parah. Menurut Lambang, dalam pelaksanaan proyek jalan di lapangan, ada anggaran pelaksana untuk turut mengatur arus lalu lintas.

"Di tempat-tempat yang krusial itu, ada petugas proyek yang berseragam pada titik-titik tertentu yang mengarahkan itu pergerakan. Jadi memang itu harus ada," katanya.

"Memang pelaksana proyek itu harus punya intuisi yang kuat, kepedulian yang kuat untuk menata itu supaya tidak macet," pungkasnya.