Minggu, 11 November 2018 12:45 WITA

Paman "Makan" Ponakan di Bantaeng, KPAI Minta Hukumannya Berlipat

Penulis: Irmawati Azis
Editor: Abu Asyraf
Paman
Komisioner KPAI Jasra Putra bersama Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

RAKYATKU.COM,BANTAENG - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Bantaeng. Apalagi para pelakunya dan korban masih ada hubungan keluarga.

Komisioner KPAI, Jasra Putra mengaku bahwa dirinya baru mendengar adanya kasus tindakan pelecehan terhadap pelajar yang dilakukan oleh paman dan sepupunya yang terjadi di Bantaeng.

"Kalau saya, baru dengar kasusnya," ujar Jasra Putra kepada Rakyatku.com, Minggu (11/11/2018).

Dia pun mengecam tindakan pelaku pemerkosaan dan menghilangkan masa depan korban. "Dalam kasus ini keluarga tidak mampu melindungi korban yang seharusnya pelindung utama, justru menjadi pelaku utama pemerkosaan," cetusnya.

Dari tiga pelaku, masih ada yang madih tergolong berusia anak, pelaku bakal dijerat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

"Sementara pelaku usia 38 tahun, mendorong kepolisian untuk menerapkan hukuman maksimal. Sebab pelaku adalah orang terdekat maka ditambah 1/3 hukuman asal," tegas Jasra.

Dia juga meminta Pemerintah Kabupaten Bantaeng untuk lebih maksimal dalam pencegahan kasus-kasus serupa.

"Apalagi Bantaeng akhir-akhir ini banyak kasus anak yang viral secara nasional, misalnya pernikahan usia dini, pemerkosaan, dan lain sebagainya," bebernya.

Seperti diberitakan, korban berinisial UEP mengalami pelecehan seksual dari tiga pria yang tak lain masih ada hubungan keluarga. Ketiganya yakni paman korban AG (38), sepupu korban atau anak AG, RI (16), dan paman korban MA (17).

Kasus itu terjadi di rumah AG, di Jalan Bakri, Kelurahan Bonto Rita, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Berlangsung sejak Juli 2017 hingga tahun 2018. Korban melaporkan kasus tersebut atas laporan polisi bernomor LP/301/X/2018/Sulsel/Res pada 27 Oktober 2018.

AG sehari-hari bekerja sebagai pedagang ayam di Pasar Sentral. Sedangkan pelaku RI masih berstatus sebagai pelajar. Sementara MA merupakan saudara dari almarhum ibu kandung korban, yang sudah tidak sekolah.