Jumat, 09 November 2018 15:11 WITA

Penjelasan Ilmiah BMKG Mengenai Gempa Beruntun di Mamasa

Penulis: Himawan
Editor: Nur Hidayat Said
Penjelasan Ilmiah BMKG Mengenai Gempa Beruntun di Mamasa
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Gempa bumi beruntun terjadi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Memasuki hari ketujuh, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 217 gempa yang terjadi.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkapkan dari 217 gempa yang terjadi hingga hari ini, ada 39 gempa yang dirasakan warga Mamasa. Tidak hanya di Mamasa, kabupaten seperti Mamuju, Polewali Mandar hingga Parepare turut merasakan gempa yang berpusat di Mamasa. 

Kekuatan gempa juga variatif. Gempa pertama berkekuatan 3,7 skala richter. Selanjutnya kekuatan gempa pada Selasa dini hari (6/11/2018) mencapai 5,5 SR. Gempa berkekuatan 5 SR terjadi sebanyak tiga kali (Selasa, Rabu, dan Kamis). 

"Memperhatikan tren frekuensi kejadian gempa yang terjadi, tampak ada kecenderungan adanya sebuah peningkatan aktivitas kegempaan di wilayah Mamasa dengan hari Kamis yang paling banyak gempa hingga 67 kali," kata Rahmat dalam rilis yang diterima Rakyatku.com, Jumat (9/11/2018).

Rahmat menyebutkan, memperhatikan distribusi aktivitas gempa Mamasa, tampak ada kesesuaian dengan keberadaan struktur Sesar Saddang. Klaster sebaran aktivitas gempa masih terkonsentrasi pada zona jalur sesar ini. Fakta ini yang menjadi dasar bahwa aktivitas gempa Mamasa tampaknya berkaitan erat dengan reaktivasi aktivitas Sesar Saddang.

Dalam Peta Geologi Sulawesi, jalur Sesar Saddang melintas dari pesisir pantai Mamuju, Sulawesi Barat, memotong diagonal melintasi daerah Sulawesi Selatan bagian tengah lalu ke Sulawesi Selatan bagian selatan, selanjutnya bersambung dengan Sesar Walanae. 

"Di wilayah Mamasa perlitasan jalur Sesar Saddang ini berarah barat laut tenggara. Di segmen inilah aktivitas gempa beruntun saat ini terjadi. Berdasarkan mekanismenya, Sesar Saddang di segmen ini merupakan sesar geser dengan arah pergeseran mengiri (sinistral strike-slip)," tuturnya.

Dari analisis tiga gempa di Mamasa yang berkekuatan 5,0 SR, ketiga gempa ini memiliki kesesuaian mekanisme yaitu sesar mendatar (strike-slip) dengan pergerakan mengiri. 

Sehingga cukup beralasan bila disebutkan peningkatan aktivitas gempa di wilayah Mamasa ini memang berkaitan dengan Sesar Saddang dengan pergeseran mengiri (sinistral strike-slip).

Rahmat juga menjelaskan penyebab meningkatnya aktivitas gempa di wilayah Mamasa ada dua. Pertama, struktur Sesar Saddang memang dikenal sebagai sesar aktif, tetapi sudah lama tidak memicu aktivitas gempa yang signifikan. 

"Sehingga wajar jika saat ini Sesar Sadang dalam fase akumulasi stress maksimum dan saatnya melepaskan energinya yang dimanifestasikan sebagai aktivitas gempa yang beruntun kejadiannya,"tutur Rahmat. 

Dugaan kedua meningkatnya aktivitas kegempaan di Mamasa ini terpicu oleh aktivitas gempa kuat di Palu-Donggala M=7,4. Sangat mungkin transfer stress statis yang positif dan besar mereaktivasi struktur Sesar Sadang yang letaknya di selatan Sesar Palu Koro. 

"Hasil analisis Static Coulomb Stress Changes gempa Palu-Donggala dapat menjelaskan fenomena kemungkinan terjadinya picuan ini,"pungkasnya.