Jumat, 09 November 2018 00:27 WITA

Ketum PPP Sebut Prabowo-Sandi Tiru Gaya Kampanye Donald Trump

Penulis: Rizal
Editor: Adil Patawai Anar
Ketum PPP Sebut Prabowo-Sandi Tiru Gaya Kampanye Donald Trump

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Gaya kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno ditanggapi oleh Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M. Romahurmuziy. 

Menurut Romy, gaya kampanye paslon nomor urut dua tersebut identik dengan gaya berkampanye Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Yakni dengan menggunakan sistem propaganda of fear (menakut-nakuti) dan obvious lies (kebohongan yang nyata).

"Saya bisa membaca bahwa strategi yang digunakan Prabowo-Sandi mengadopsi apa yang dilakukan oleh Donald Trump. Trump itu melakukan kampanye dengan dua strategi utama. Pertama, propaganda of fear atau menakut-nakuti, misalnya Indonesia akan bubar 2020, atau Indonesia akan kolaps banknya jika rupiah tembus Rp 15 ribu ternyata setelah tembus tidak apa-apa juga malah yang terjadi deflasi, harga-harga turun. Strategi kedua dengan obvious lies atau kebohongan yang nyata, contohnya kasus Ratna Sarumpaet dipukuli padahal ngga ada," tutur Romy kepada Rakyatku.com, Kamis (8/11/2018).

Namun, menurut Romy, strategi tersebut sudah tak layak lagi dipertahankan. Sebab dalam perkembangannya, Trump sendiri justru mengalami kekalahan dalam Pemilu sela di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

"Inilah strategi yang saya lihat memang diadopsi dari Donald Trump dalam memenangkan pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa strategi Donald Trump ini sudah dibuktikan dalam Pemilu sela Amerika kemarin itu kalah. Demokrat hari ini menguasai kongres atau DPR disana. Jadi kalau strateginya masih itu, saya hanya mengingatkan bahwa itu sudah dinyatakan kalah dalam Pemilu sela Amerika. Kalau memang mau kalah lagi ngga apa-apa di teruskan," tambah Romy yang juga Dewan Penasehat TKN Koalisi Indonesia Kerja (KIK) Jokowi-Ma'ruf Amin tersebut.

Romy juga mengajak Prabowo-Sandi untuk berbicara sesuai dengan fakta yang sebenarnya di lapangan. Memanipulasi keadaan, menurutnya, justru akan membuat masyarakat tambah berpaling.

"Saya kira bicaralah apa adanya, bicaralah yang sesungguhnya. Jangan memanipulasi situasi. Karena bisa saja emak-emak yang jadi andalan mereka itu marah jika misalnya ketika turun kepasar dikatakan bahwa harga-harga naik padahal kenyataannya tidak," pungkasnya.