Jumat, 09 November 2018 03:30 WITA

Saudi Dinilai bakal Eksekusi Mati 12 Minoritas Syiah

Editor: Adil Patawai Anar
Saudi Dinilai bakal Eksekusi Mati 12 Minoritas Syiah

RAKYATKU.COM - Arab Saudi dikhawatirkan akan "segera" mengeksekusi mati 12 orang minoritas Syiah setelah kasus mereka dilimpahkan ke Presidency of State Security, lembaga keamanan berkuasa yang langsung berada di bawah raja.

Kekhawatiran ini disampaikan oleh Amnesty International yang menyatakan bahwa belasan orang tersebut divonis hukuman mati dalam persidangan massal pada 2016 lalu. Otoritas Saudi menyatakan mereka bersalah karena dituduh sebagai mata-mata Iran, musuh kerajaan di kawasan.

"Keluarga dari belasan orang itu ketakutan dengan perkembangan ini dan minimnya informasi yang mereka terima mengenai status kasus yang dihadapi orang-orang yang mereka cintai," kata Direktur Timur Tengah dan Afrika Amnesty International, Heba Morayef, seperti dilansir CNN, Kamis (8/11).

"Mengingat kerahasiaan yang melingkupi proses pengadilan Arab Saudi, kami kahwatir bahwa perkembangan ini menandakan eksekusi mati segera terhadap 12 orang itu."

Dikutip AFP, Saudi baru membentuk Presidency of State Security pada tahun lalu. Badan itu gabungan dari lembaga kontra-terorisme dan intelijen domestik Saudi.

Saudi memiliki tingkat pelaksanaan hukuman mati paling tinggi di dunia. Hukuman mati negara kerajaan itu menyasar para terpidana terorisme, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, hingga perdagangan narkoba.

Morayef menganggap vonis mati terhadap 12 minoritas Syiah dijatuhkan setelah "persidangan massal yang tidak adil."

Sementara itu, Riyadh belum berkomentar mengenai kabar eksekusi mati ini.

Sebagian besar umat Muslim di Saudi beraliran Sunni. Berdasarkan data, hanya 15 persen kaum Syiah dari total 32 jutaan penduduk Muslim di Saudi.

Kabar eksekusi ini muncul ketika Saudi tengah menjadi sorotan atas kisruh pembunuhan jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman, di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu.

Khashoggi tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul. Meski sempat membantah segala tudingan, pemerintah Saudi pada akhirnya mengakui Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya.

Turki menuding pembunuhan Khashoggi diperintahkan "pejabat tertinggi" Saudi. Namun, Riyadh menegaskan tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan tersebut. 

Saudi beralasan pembunuhan Khashoggi merupakan sebuah kesalahan sangat besar yang dilakukan pihak-pihak di luar otoritas dan tanggung jawab mereka.