Kamis, 08 November 2018 07:30 WITA

Limpahan Rezeki dan Karier Cemerlang, Nikmat atau Malapetaka?

Editor: Abu Asyraf
Limpahan Rezeki dan Karier Cemerlang, Nikmat atau Malapetaka?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Mungkin Anda memiliki rezeki yang melimpah. Bisa makan apa saja. Tidak pernah sakit. Padahal, selama ini malas atau tidak pernah salat. 

Kalaupun salat, dilakukan asal-asalan. Lebih memilih salat sendirian di rumah, mengabaikan panggilan azan dari masjid-masjid. Itupun dilakukan di akhir-akhir waktu.

Kalau Anda mengalami kondisi ini, berhati-hatilah! Nikmat itu ketika kita mampu mengingat Allah setiap saat dalam kondisi apapun. Bukan dengan limpahan rezeki yang kemudian melenakan dan terjerumus dalam maksiat.

Rezeki yang melimpah saat kita menyepelekan ibadah dan bahkan bermaksiat, maka itu adalah istidraj. Suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah." (HR. Ahmad)

Allah Ta’ala berfirman, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, "Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” (Tafsir As Sa’di, hal. 260).

Dalam Alquran surah Al Qalam ayat 17-33, ada cerita khusus tentang istidraj yang menimpa pemilik kebun. 

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)-nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. 

Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

“Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.”

Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.

“Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.”

Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).

Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)"

Mereka mengucapkan: “Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.

Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.

Seperti itulah azab dunia. Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan, “Kisah di atas menunjukkan bagaimanakah akhir keadaan orang-orang yang mendustakan kebaikan. Mereka telah diberi harta, anak, umur yang panjang serta berbagai nikmat yang mereka inginkan. Semua itu diberikan bukan karena mereka memang mulia. Namun diberikan sebagai bentuk istidraj tanpa mereka sadari.“ (Tafsir As Sa’di, hal. 928)

Harta Bukan Ukuran

Banyaknya nikmat atau kurangnya nikmat duniawi yang diterima seorang hamba bukanlah menjadi ukuran bahwa Allah ta'ala telah memuliakannya dibanding yang lainnya. Bahkan bisa jadi, banyaknya nikmat duniawi justru dapat menjadikan seseorang lupa akan hakikat penciptaannya.

Makanya, Allah ta'ala dalam firman-Nya menyindir orang-orang yang menyangka bahwa keberadaan nikmat adalah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan-Nya. 

Allah ta'ala berfirman, "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr: 15-17)

Artinya, tidak semua orang yang Allah ta'ala karuniakan nikmat dan lapangkan rezeki untuknya, Allah ta'ala memuliakannya. Tidak pula setiap orang yang Allah timpakan ujian kepadanya dan sempitkan rezeki baginya, Allah ta'ala kemudian menghinakannya. Bahkan sejatinya, Allah ta'ala akan mengujinya dengan kenikmatan dan Allah ta'ala muliakan yang lainnya dengan ujian.

Di dalam Jami’ at-Tirmidzi, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang-orang yang Dia cintai dan orang-orang yang tidak Dia cintai. Tetapi Dia tidak memberikan keimanan kecuali hanya kepada orang-orang yang Dia cintai saja”.

Sebagian salaf (orang-orang terdahulu yang shalih) berkata, “Kerap kali orang-orang yang ditimpa istidraj dengan nikmat Allah kepadanya dalam keadaan ia tidak mengetahui, kerap kali orang yang tertipu dengan ditutupi (aibnya) oleh Allah dalam keadaan ia tidak mengetahui, dan kerap kali orang yang terfitnah dengan pujian manusia atas dirinya dalam keadaan ia tidak mengetahui” (Lihat Ad-Da’u wa ad-Dawa'(37-38).

Peluang terjatuhnya seorang mukmin dalam istidraj juga selalu terbuka. Mungkin bukan dengan bentuk bergelimangnya nikmat secara langsung, tetapi dalam bentuk lainnya. Berapa kali kita durhaka kepada Allah ta'ala dan Dia tidak atau belum menghukum kita dan akhirnya kita merasa nyaman-nyaman saja? Mungkin sebagian kita akan bertanya seperti itu.

Sadarkah kita, sesungguhnya hukuman dari kelalaian kita yang mungkin kita temui adalah sedikitnya taufik untuk berbuat baik. Bukankah telah berlalu hari-hari kita tanpa bacaan Alquran? Bukankah telah berlalu malam-malam yang panjang sedangkan kita terhalang dari shalat malam? Bukankah telah berlalu musim-musim kebaikan seperti Ramadhan, enam hari di bulan Syawwal, sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dan lainnya, sedangkan kita tidak mendapatkan taufik untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya? Bukankah ini semua juga adalah bentuk hukuman dari kelalaian kita?

Tidakkah kita merasakan beratnya sebuah ketaatan? Tidakkah kita merasa lemah di hadapan hawa nafsu dan syahwat? Tidakkah kita merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta? Tidakkah kita merasa berat untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid? Tidakkah kita tersibukkan pada hal yang tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu?  Hukuman mana yang lebih banyak dari itu? Sungguh, ini semua adalah tipuan. Bisa jadi, semua ini adalah bentuk hukuman dari Allah ta'ala, hukuman sebagai bentuk istidraj dari-Nya.

Maka, kita perlu introspeksi diri sejak saat ini. Jika saat ini kita diberikan kemudahan dalam hal rezeki, karier, kecemerlangan dalam berfikir, kelapangan dalam hidup, maka selain mengucap syukur kepada Allah ta'ala, kita pun tetap perlu waspada. 

Apakah benar ini sebuah ni’mah (kenikmatan) ataukah sebuah niqmah (malapetaka)? Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr Lillah). 

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Orang mukmin melakukan kebaikan sembari berharap-harap cemas, sedang pendosa melakukan kedurhakaan dan merasa dirinya aman.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/235).

Berita Terkait