Senin, 05 November 2018 19:54 WITA

Marah Dianggap Melarikan Diri, Terdakwa Tenggelamnya KM Arista Tunjuk-Tunjuk Saksi di Ruang Sidang

Penulis: Himawan
Editor: Nur Hidayat Said
Marah Dianggap Melarikan Diri, Terdakwa Tenggelamnya KM Arista Tunjuk-Tunjuk Saksi di Ruang Sidang
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Di ruang Harifin Dg Tompo Pengadilan Negeri Makassar, mata Dg Kila melototi seorang wanita yang ada di depannya. Wanita yang ditunjuki itu diketahui bernama Lenni. 

Lenni merupakan saksi sekaligus penumpang di KM Arista yang tenggelam di perairan Makassar pada 13 Juni 2018 lalu. Dg Kila sebagai nakhoda sekaligus pemilik kapal dijadikan tersangka oleh polisi dalam peristiwa yang menewaskan 17 orang itu.

"Mengapa Anda menyebut saya melarikan diri saat kapal sudah tenggelam. Bagaimana Anda tahu?" tanya Dg Kila kepada Lenni sambil mengacungkan jari telunjuknya ke Lenni saat persidangan berlangsung, Senin (5/11/2018).

Melihat cara Dg Kila yang bertanya seperti itu, ketua majelis hakim Budiansyah, menegurnya. Bahkan Dg Kila harus ditenangkan oleh penasihat hukum yang ada di sampingnya. 

Dalam sidang mendengarkan keterangan saksi itu, Lenni mengungkapkan pada saat kapal sudah tenggelam dari pelabuhan Paotere, Makassar, ia tidak melihat lagi Dg Kila. Di situ, ia menduga bila Dg Kila melarikan diri.

"Saya lama berpegang tapi tidak melihat dia lagi pada saat kapal terbalik," kata Lenni di hadapan majelis hakim. 

Usai sidang ditutup, Dg Kila masih tidak terima dengan keterangan saksi yang dihadirkan. Ia lantas harus ditenangkan oleh keluarganya yang hadir menyaksikan sidangnya.

Menanggapi hal itu, pengacara Dg Kila, Budi Minzathu mengatakan tenggelamnya kapal KM Arusta bukan karena kesalahan kliennya.

"Ada beberapa korban yang ikut pada kapal tersebut. Dan, korban ini pada prinsipnya tidak keberatan. Hanya ada satu dua orang yang keberatan," kata Budi usai persidangan. 

Budi juga menyebut kesaksian Lenni dalam persidangan terlalu dibuat-buat. Ia mengatakan masih ada pihak yang lebih bertanggung jawab atas peristiwa tenggelamnya KM Arista. 

Ia menuding pihak Syahbandar yang lebih bertanggung jawab karena lalai mengangkut penumpang ke pulau lain. Selain itu, Budi juga mengatakan Syahbandar memang tidak pernah melakukan pengawasan di pelabuhan Paotere pada kapal-kapal yang mirip dengan milik Dg Kila.

"Setahu kami keluar masuknya kapal di pelabuhan Paotere itu tidak pernah diperiksa. Tentunya ketika misalnya ingin dilibatkan orang lain ya Syahbandar dong harus bertanggung jawab," pungkasnya. 

Jaksa penuntut umum mendakwa Dg Kila telah melanggar pasal 302 dan 323 Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang pelayaran dengan maksimal hukuman penjara 10 tahun.