Senin, 05 November 2018 14:34 WITA

KNKT Ungkap Penyebab Pesawat Lion Air JT 610 Pecah

Editor: Mulyadi Abdillah
KNKT Ungkap Penyebab Pesawat Lion Air JT 610 Pecah
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat memberikan penjelasan kepada keluarga korban Pesawat Lion Air JT 610 di Hotel Ibis, Jakarta Timur, pada Senin (5/11/2018).

RAKYATKU.COM - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan laporan investigasi sementara terhadap jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Pesawat itu pecah ketika menabrak permukaan air laut.

"Kita lihat serpihan ini sudah dalam bentuk kecil. Itu menandakan pesawat menyentuh air dengan kecepatan cukup tinggi," ucap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono kepada keluarga korban di Hotel Ibis, Jakarta Timur, pada Senin (5/11/2018).

Soerjanto mengatakan serpihan itu tersebar di permukaan air laut yang diperkirakan seluas 250 meter persegi. Keyakinan KNKT bahwa pesawat Lion Air itu jatuh di lokasi tersebut diperkuat keterangan saksi.

"Laporan dari yang kita wawancara, yaitu tugboat yang berjarak 1 nautical mile atau 1,8 kilometer, mereka melihat ada sesuatu yang masuk ke dalam air. Setelah itu, kapal tongkang itu melepas tugboat dan melihat ada serpihan yang sekarang kita temukan pada radius tidak lebih dari 500 meter," ucap Soerjanto dilansir dari detikcom.

"Jadi pesawat mengalami pecah ketika bersentuhan dengan air atau ketika impact terhadap air dan pesawat tidak pecah di udara. Kalau (pecah) di udara, serpihan akan lebar," imbuh Soerjanto.

Selain itu, Soerjanto menjelaskan soal kondisi salah satu mesin pesawat yang sudah diangkat dari dasar laut. Dia menyebut mesin itu dalam keadaan hidup ketika bersentuhan dengan air.

"Dari mesin ini, kita bisa mengambil satu kondisi di mana saat mesin menyentuh air ini dalam keadaan high RPM, ditandai dengan hilangnya semua sudut turbin atau kompresor. Itu tanda mesin berputar dengan kecepatan tinggi. Jadi boleh dikatakan dari mesin ini tidak masalah," ucap Soerjanto.

Kemudian Soerjanto menyampaikan soal proses pengunduhan data dari FDR atau flight data recorder dari black box pesawat. Sejauh ini, proses itu sudah dilakukan dan sebagian isinya sudah dipaparkan.

"Ini kita ambil dari data black box berisi 69 jam penerbangan dan parameternya 1.900 parameter yang direkam," ucap Soerjanto.

Namun ada bagian black box lain yang perlu ditemukan, menurut Soerjanto, yaitu CVR atau cockpit voice recorder, yang berisi rekaman suara dari kokpit ke menara pengawas, suara antara kapten dan kopilot, suara di kokpit, dan suara komunikasi antara kokpit dan kabin. Dia menyebut tim KNKT dibantu Amerika Serikat, Australia, dan Singapura dalam mengerjakan hal itu.

"Dalam jangka 1 bulan nanti, KNKT akan menerbitkan laporan awal berupa data fakta selama investigasi. Saat ini tim sedang mempelajari seluruh data," ucapnya.

Dia menyampaikan kerja KNKT ini bertujuan memaparkan penyebab pesawat itu mengalami kecelakaan. Hal itu penting untuk mencegah kejadian yang sama terulang.

Pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018. Pesawat berjenis Boeing 737 MAX 8 itu membawa 189 orang, termasuk pilot, kopilot, dan awak kabin.