Minggu, 04 November 2018 16:27 WITA

Sinergi Pemerintah-Pertamina, Wujudkan Masyarakat Nelayan Sejahtera

Penulis: Nurhikmah
Editor: Nur Hidayat Said
Sinergi Pemerintah-Pertamina, Wujudkan Masyarakat Nelayan Sejahtera

RAKYATKU.COM,MAKASSAR - Masyarakat nelayan di Indonesia terus berkurang selama 10 tahun terakhir. Jumlahnya tergerus dari 1,6 juta keluarga menjadi hanya 800.000 keluarga (2003-2013).

Jika dihitung satu keluarga empat orang, maka jumlah masyarakat Indonesia yang hidup dari aktivitas nelayan hanya tersisa 3,2 juta jiwa atau 1,2 persen dari total penduduk Indonesia.

Sulawesi Selatan sendiri merupakan provinsi dengan jumlah nelayan terbanyak keempat di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel, jumlah nelayan di Sulsel mencapai 130.030 keluarga per 2016.

Kendati jumlahnya tidak begitu banyak, bukan berarti pemerintah melepaskan tanggung jawab dan perhatian dari masyarakat nelayan. Bagaimanapun, nelayan merupakan salah satu identitas Indonesia sebagai negara maritim.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. Salah satunya melalui upaya konversi bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG) guna membantu nelayan mengurangi biaya melaut mereka.

Konversi BBM ke BBG ini sudah dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian PT Pertamina Persero ditunjuk menjadi perusahaan yang mendistribusi konverter kit perdana kepada nelayan.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 294 K/10/MEM/2018, hingga akhir tahun 2018, akan dibagikan sejumlah 25 ribu unit konverter kit untuk 55 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Adapun kriteria nelayan yang mendapatkan paket konverter kit BBM ke BBG berdasarkan Perpres Nomor 126 Tahun 2015.

Dalam Perpres ini dijelaskan bahwa penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga elpiji, untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil antara lain nelayan yang memiliki kapal ukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT), berbahan bakar bensin atau solar, dan memiliki daya mesin di bawah 13 Horse Power (HP).

Pembagian paket perdana konverter kit BBM ke elpiji terdiri atas beberapa komponen, yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, dua buah tabung elpiji 3 kilogram, dan aksesori pendukung lainnya.

Dengan menggunakan konverter kit berbahan bakar elpiji, penggunaan bahan bakar kapal akan menjadi lebih hemat, sehingga diharapkan memberikan nilai manfaat ekonomi yang signifikan bagi nelayan kecil.

Di Sulawesi Selatan jumlah konverter kit yang sudah diserahkan kepada nelayan sebanyak 2.960 paket. Paket tersebut tersebar di tiga kabupaten yaitu, Takalar, Jeneponto, dan Bone. 

"Targetnya tahun ini Untuk Sulawesi target pembagian hingga Desemver 2018 totalnya 10.635," kata Unit Manager Communciation & CSR MOR VII, M Roby Hervindo.

Roby mengatakan, pada 2016 dan 2017 telah dibagikan sejumlah 5.473 dan 17.081 unit paket konverter kit.

Terasa Hematnya

Daeng Taba, nelayan asal Takalar bercerita pengalamannya menggunakan perahu berbahan bakar elpiji.

"Dulu saya melaut saat ombak sedang menggunakan mesin bahan bakar premium. Sehari melaut pulang pergi dalam perjalanan 24 mil bisa habis 10 liter seharga 100.000 rupiah di pengecer," ujarnya.

Namun, setelah mendapat konverter kit dari Kementerian ESDM pada September lalu, ia ketagihan pakai elpiji untuk melaut.

"Pakai elpiji, saya bisa melaut kadang-kadang dipakai pulang pergi total 24 mil cuma habis 1 tabung elpiji lebih hemat sekitar Rp84.500," kata Daeng Taba.

Jika setiap bulan daeng Taba bisa melaut hingga 10 kali, maka Daeng Taba dapat berhemat Rp850.000.

"Alhamdulillah bisa dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Bisa juga ditabung. Terasa sekali hematnya," katanya.