Kamis, 01 November 2018 12:08 WITA

Melawan Hoaks dengan Pemberdayaan Literasi Media

Editor: Mulyadi Abdillah
Melawan Hoaks dengan Pemberdayaan Literasi Media
Qudratullah Rustam

INFORMASI yang begitu pesat perkembangannya tidak lagi menjadi hal yang susah untuk didapatkan dengan ditentukan oleh tempat dan media tertentu. Jika dulu informasi secara luas hanya dapat diperoleh melalui media cetak, hal tersebut tidak lagi terjadi sekarang ini.

Dengan diikutinya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, media juga semakin berkembang dan menyajikan informasi yang beragam secara cepat dan mudah dijangkau oleh khalayak. Kemudahan tersebut
menjadikan khalayak tidak lagi “miskin” informasi, namun juga sebagai tantangan khayalak dalam memilih informasi yang jelas kebenarannya.

Sebagaimana diketahui, perkembangan berita hoaks juga mengikuti perkembangan media massa. Berita-berita yang belum jelas bahkan tidak jelas kebenarannya terus berseliweran di media massa, terutama pada media online dan media mainstream. 

Berita hoaks tidak serta-merta dipandang remeh begitu saja. Dampaknya sangatlah berpengaruh terhadap lingkungan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal yang tersebutlah yang kemudian memerlukan keterampilan masyarakat dalam mengolah informasi yang ada.

Hoaks merupakan sebuah usaha untuk mengakali, menipu, membohongi dan mengecoh khalayak merupakan individu maupun kelompok untuk mempercayai sesuatu hal yang disampaikan di atas kesadaran bahwa ia sedang berbohong dan merencanakan sesuatu. Menurut pandangan psikologis, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang sangat mudah dalam mempercayai berita hoaks. 

Antara lain orang tersebut lebih cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini dan orang tersebut memiliki sikap yang sesuai dengan informasi yang didapatkan. (Respati, 2017).

Secara historis, kemunculan berita hoaks telah mengambil bagian besar terhadap kericuhan di dunia ini. Sebagaimana dikutip dalam liputan6.com yang mengulas beberapa perang yang dipicu oleh berita hoax. 

Di antaranya adalah berita hoaks pertama pada tahun 1709 mengenai almanak (penanggalan) palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff, alias Jonathan Swift yang merupakan penyair asal Irlandia. Saat Swift meramalkan kematian seorang astrolog, yakni John Partridge sebagai upaya untuk merebut pengaruh di tengah publik Britania Raya. Untuk meyakinkan kabar tersebut, ia pun membuat sebuah obituari palsu di hari yang sama dengan tanggal ramalannya tersebut. Akibatnya, Partridge tidak kuat menahan malu yang begitu besar sehingga memutuskan keluar dari profesi astrologi.

Di Indonesia, berita hoaks juga tidak terhindarkan. Salah satu berita hoax yang pernah meresahkan masyarakat di antaranya yang baru saja terjadi adalah berita hoax terkait dengan ancaman gempa dahsyat di Pulau Jawa. Seorang perempuan menyebarkan informasi tentang gempa dahsyat berkekuatan 9,5 Skala Richter (SR) yang cukup membuat banyak orang resah. Informasi bohong tersebut disebar menggunakan akun Facebook-nya setelah musibah gempa bumi di Palu dan Donggala terjadi.

Berita hoaks itu meminta penduduk Bandung utara, Jakarta, waspada serta menyiapkan perbekalan untuk mengantisipasi gempat tersebut. 

Tak heran hal tersebut terjadi, data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Internet telah salah gunakan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat (kominfo.go.id).

Hal tersebut menjadi acuan bahwa masyarakat perlu diberdayakan dalam menangkal dan mencegah penyebaran berita hoaks di lingkungannya. Kemitraan lembaga pemerintah menjadi hal terpenting dalam mengkomunikasikan dan merumuskan program pemberdayaan yang dianggap penting untuk dilakukan sekarang. Apalagi media mainstream sudah menyentuh wilayah-wilayah pedesaan, di mana notabene masyarakat pedesaan menganggap berita yang bermunculan di media adalah berita yang benar terjadi.

Selain itu, masyarakat perlu dibekali keterampilan membaca dan menggunakan media sehingga masyarakat terhindar dari estafet penyebaran berita hoaks. Misalnya, memberitahu masyarakat bahwa domain blog pribadi yang menyampaikan informasi tidaklah semuanya benar.

Membagikan informasi tertentu juga tidakah didasari dengan suasana hati dan kondisi diri yang sedang dihadapi saat itu. Misalnya, tombol share pada media sosial Facebook perlu menjadi perhatian dan tidak begitu saja digunakan seenaknya. Bukanlah fitur yag biasa saja meski kelihatannya memang biasa dengan tampilan icon panah melengkung.

Fitur share pada Facebook terkadang tidak dipertimbangkan untuk digunakan. Bayangkan saja jika share informasi masih dianggap biasa, dikutip KompasTekno di We Are Social, Indonesia menyumbang jumlah pengguna Facebook terbesar urutan ke-empat secara global. Hingga Januari 2018, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia mencapai 130 juta akun dengan persentase enam persen dari keseluruhan pengguna. Bayangkan jika misal 10 juta pengguna adalah pengguna yang menganggap klik share itu biasa saja dan kerap membagikan berita yang tidak jelas kebenarannya. 

Sungguh menjadi pekerjaan besar pemerintah dalam meminimalisir terjadinya berta hoax yang berdampak besar terhadap masyarakat luas. Penanganan hoaks perlu dicegah layaknya penyakit yang kini mulai menjangkit kehidupan masyarakat.

Penulis: Qudratullah Rustam
Mahasiswa Program Doktor Dakwah dan Komunikasi Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Berita Terkait