Senin, 29 Oktober 2018 14:39 WITA

Beragam Masalah Penyebab Turunnya Produktivitas Kakao di Sulsel

Editor: Mulyadi Abdillah
Beragam Masalah Penyebab Turunnya Produktivitas Kakao di Sulsel
Foto: IST

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Produksi kakao di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, mengalami penurunan yang cukup besar dalam satu dekade terakhir. Beragam masalah menjadi penyebab, baik itu serangan hama penyakit ataupun menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan pupuk, serta masalah-masalah lainnya. 

“Menjadi masalah utama adalah tingginya serangan hama penyakit seperti Penggerek Buah Kakao (PBK) dan busuk buah yang merusak pertanaman kakao. Petani kemudian menggunakan insektisida yang tak cocok dengan tanaman kakao. Ini mengakibatkan kerusakan ekologi kebun secara luas,” ungkap Nasaruddin Badar, pakar budidaya kakao dari Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, dalam Focus Group Discussion bertajuk mengembalikan kejayaan kakao Sulsel, di gedung PKP Unhas, Sabtu (27/10/2018).

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pelatihan, namun tidak memberi dampak signifikan karena sebagian besar petani sendiri tidak mengaplikasikannya di kebun.

“Pelatihan telah sering dilakukan namun ternyata tidak diaplikasikan oleh petani ketika mereka sudah di kebun. Petani tidak bisa mengolah kebunnya seperti yang diajarkan. Di sisi lain, tak ada kehadiran penyuluh di lapangan. Para penyuluh kebanyakan merupakan penyuluh tanaman pangan, sementara tanaman kakao memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanaman pertanian lainnya,” 

Masalah lainnya adalah pengelolaan kebun dengan sistem buruh mengakibatkan pengelolaan kebun tidak maksimal karena ketidakhadiran petani pemilik lahan dalam mengawasi pengelolaan kebunnya.

“Banyak pekerja kebun bukan petani terlatih, namun hanya mandor atau pekerja kakao yang hanya berpikir bagaimana pekerjaan selesai tanpa melihat efektivitas pekerjaannya.”

Nasruddin juga menyoroti penggunaan herbisida secara berlebihan yang justru merusak ekosistem kakao, termasuk membunuh predator alami. 

“Untuk mengatasi hal ini maka penting untuk dilakukan pengelolaan kebun secara organik, tidak lagi mengandalkan bahan- bahan kimiawi.

Ade Rosmana, pakar hama penyakit dari Fakultas Pertanian Unhas, menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi hambatan utama pertumbuhan kakao. 

“Fusarium yang banyak berkembang sehingga menyebabkan banyaknya kematian pada tanaman kakao,” Katanya.

Ia mengusulkan perlu adanya percepatan pengelolaan OPT kakao melalui penggunaan bahan organik dan mikroorganisme.

Ade Rosmana juga menyoroti penggunaan pupuk kimiawi bisa berdampak pada menurunnya kualitas tanah sehingga ia kemudian menyarankan penggunaan kompos. 

“Penggunaan kompos ini ternyata efektif dalam menurunkan serangan hama PBK dan busuk buah,” tambahnya. 

Ade juga menyoroti bantuan pupuk sintesis subsidi dan non-subsisdi yang tidak merata dan datang tidak tepat waktu. Dampaknya terjadi kompetisi antara pupuk kakao dan pupuk untuk pertanian lainnya 

“Pupuk untuk kakao sering dialihkan ke tanaman lain sehingga petani kakao sering kesulitan mendapatkan pupuk.” 

Ade melihat, subsidi pupuk untuk petani tidak efektif. Jika pun akan ada subsidi untuk petani sebaiknya diganti dengan subsidi mesin penghancur, yang bisa digunakan untuk pembuatan pupuk kompos.

Untuk pengadaan bibit, Ade menyarankan kepada pemerintah agar mengharuskan penyediaan bibit untuk sambung pucuk. 

Masalah lainnya adalah penyediaan bibit bersertifikasi di mana kualitas bibit yang disuplai kurang baik. Bibit yang dikembangkan menggunakan varietas lokal justru jauh lebih bagus pertumbuhannya.

Tags