Minggu, 28 Oktober 2018 17:07 WITA

Terjang Jalur Longsor, Tim Dompet Dhuafa Tembus 3 Desa Terdampak Gempa

Editor: Aswad Syam
Terjang Jalur Longsor, Tim Dompet Dhuafa Tembus 3 Desa Terdampak Gempa
Tim Loves Dompet Dhuafa, menembus jalur terjal untuk menyalurkan bantuan logistik di daerah terpencil di Sulteng.

RAKYATKU.COM, PALU — Roda-roda kendaraan menggelinding di jalur terjal dan longsor. Debu-debu tampak beterbangan, tertiup knalpot mobil saat berakselerasi di pendakian.

Merayap secara hati-hati, mesti dilakukan kendaraan pembawa bantuan dari Tim Aktivis Kemanusiaan Loves Dompet Dhuafa. Pasalnya, jika ceroboh, mobil akan masuk jurang.

Sabtu kemarin (27/10/2018), tim Dompet Dhuafa menembus pedalaman Sulawesi Tengah, untuk menyalurkan bantuan. Sebelumnya jalan utama yang menghubungkan kota dan beberapa daerah di sekitar Sulawesi Tengah, terputus akibat gempa yang mengakibatkan longsor, dan memutuskan akses jalan utama, penerus deyut nadi ekonomi warga pelosok. 

Lebih dari 76 kilometer tim logistik menembus jalur ekstrem, menuju tiga desa yaitu Desa Silua, Desa Namo dan Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

Ada rintangan di beberapa titik. Rata-rata jalur di tengah likuefaksi yang awalnya ditutup, karena masih basah dan gembur, akhirnya sudah bisa dilewati setelah mengering. 

Menembus jalur pasca banjir bandang dan longsor di Desa Kororo, Kecamatan Kulawi, jalur longsor sepanjang jalan Kecamatan Pakuli, sampai jalur buka tutup selama 3 jam di Kulawi. Hal ini disebabkan ada pengerjaan buka jalur longsor sepanjang kurang lebih 10 hingga 15 kilometer. 

Terjang Jalur Longsor, Tim Dompet Dhuafa Tembus 3 Desa Terdampak Gempa

Akhirnya tim aktivis kemanusiaan Loves Dompet Dhuafa, berhasil menembus jalur-jalur sulit untuk masuk ke pos pengungsi di desa paling ujung, yaitu Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, dalam kurun waktu 6 jam.

Hingga kemarin (Sabtu, 27/10/2018) tim Dapur Keliling sudah membagikan 300 logistik, dan agar-agar 400 cup di Biromaru, Lolu, Sigi dengan total 700 penerima manfaat.

"Banyak para korban yang masih mengalami trauma, yang dialami baik anak-anak maupun para orang tua. Ini merupakan tantangan tim PFA (Pshycological First Aid) Dompet Dhuafa, untuk bisa menangani trauma yang dialami para pengungsi," ucap Izzat, koordinator PFA Dompet Dhuafa kepada Rakyatku.com.

Program Pshycological First Aid (PFA) diikuti 39 anak-anak dan 30 orang dewasa. Sasaran dari Program PFA ini, adalah ibu, remaja dan anak dengan intervensi berbeda di masing-masing sasaran tersebut. 

"Kami sangat bersyukur, karena ada tim dari Dompet Dhuafa yang datang ke pengungsian kami, untuk membantu menghilangkan trauma kepada para pengungsi. Sebelumnya, para pengungsi mengalami trauma yang berkepanjangan," ucap Marin, salah seorang warga.

Hampir sebulan, Dompet Dhuafa terus bergerak, untuk membantu dan mengevakuasi para korban gempa-tsunami Sulawasi Tengah. Seluruh bantuan secara bertahap disalurkan ke beberapa titik pos pengungsian, serta penerima manfaat yang sudah disurvei melalui tim aktivis kemanusiaan. 

Dompet Dhuafa, hingga kini sudah 18.245 penerima manfaat dari pelayanan, hingga program yang sudah berjalan pasca gempa-tsunami di wilayah tersebut. 

Sampai saat ini sudah 2.113 jiwa meninggal dunia, 4.612 jiwa luka-luka, 223. 751 jiwa pengungsi dan 1.309 jiwa hilang. Di sisi lain, Dompet Dhuafa bergerak dengan memberikan layanan evakuasi di tujuh titik dengan 137 jenazah berhasil ditemukan, 55 titik pos layanan kesehatan, serta klinik lapangan dengan jumlah penerima manfaat mencapai 2.189 pasien. 

Mendirikan dapur umum di dua titik, dan mendatangkan Dapur Keliling dari Jakarta sehingga dapat mencakup di sembilan titik, hingga Jumat lalu, (26/10/2018) sudah 7.470  jiwa penerima manfaat.