Rabu, 24 Oktober 2018 12:17 WITA

Pembakaran Bendera di Garut, Begini Respons Kapolda Sulsel

Penulis: Syukur
Editor: Nur Hidayat Said
Pembakaran Bendera di Garut, Begini Respons Kapolda Sulsel
Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Aksi pembakaran kalimat yang identik dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada acara Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat oleh oknum Banser menjadi polemik. Hal tersebut menjadi perdebatan di masyarakat.

Atas insiden tersebut, Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono ikut angkat bicara. Menurut Umar, berdasarkan keterangan hasil penyelidikan Polda Jabar dan Polres Garut, bendera tersebut bukan simbol atau kalimat sakral dari agama tertentu. Bendera tersebut merupakan panji HTI organisasi yang telah dilarang oleh pemerintah.

"Saat peringatan Hari Santri Nasional tersebut semua organisasi Islam dari berbagai elemen awalnya telah sepakat tidak ada bendera yang dikibarkan pada saat acara kecuali bendera merah putih," kata Umar, Rabu (24/10/2018).

Umar menjelaskan, saat perayaan Hari Santri Nasional ada beberapa orang membawa panji HTI sehingga memicu terjadi insiden pembakaran pembakaran panji HTI. Olehnya itu, ia berharap warga di Sulsel tak terprovokasi dengan kejadian tersebut.

"Sulawesi Selatan adalah rumah kita bersama, kita harus menjaganya bersama dengan saling menghargai dengan berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur budaya Bugis. Kita harus tetap sipakatau (saling memanusiakan/menghargai), sipakainga (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling menghormati)," tuturnya.

Selain itu, Umar berpesan kepada masyarakat Sulsel agar tidak mengaitkan kasus pembakaran panji HTI dengan kalimat sakral agama Islam. Hal ini agar tidak mengganggu Kamtibmas di Sulsel. Apapun yang terjadi di Garut atau di daerah lain, menurut Umar Sulsel harus tetap aman. 

"Jangan gampang tersulut provokasi pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab. Kejadian di Garut sudah ditangani oleh pihak kepolisian kita serahkan segala prosesnya ke jalur hukum," ucapnya.