Rabu, 24 Oktober 2018 11:12 WITA

Heboh, Napi di Palu Bentuk Tim Relawan untuk Pengungsi

Penulis: M. Qadri
Editor: Nur Hidayat Said
Heboh, Napi di Palu Bentuk Tim Relawan untuk Pengungsi

RAKYATKU.COM, PALU - Banyak relawan berdatangan ke Sulawesi Tengah ikut mengevakuasi jenazah korban bencana alam. Mereka juga membantu bahan makanan, air mineral, dan tenda untuk pengungsi. 

Saat ini warga dihebohkan dengan munculnya relawan yang menggunakan rompi orange dan bertuliskan Relawan WBP Rutan Palu. WBP adalah singkatan dari warga binaan pemasyarakatan rumah tahanan.

Relawan tersebut adalah narapidana yang menjalani masa hukuman di Rumah Tahanan (Rutan) Klas II A Palu. Mereka muncul di kemah pengungsian korban di Sulawesi Tengah. 

Munculnya sejumlah narapidana itu, bukan lari dari jeruji besi, namun hadir di tengah masyarakat turut membantu untuk meringankan bagi korban.

Narapidana itu, mengatasnamakan dirinya sebagai relawan Tim Bui Squad. Visi dan misi Tim Bui Squad yang bergerak di bidang kemanusiaan, mendapatkan respons penuh dari Kanwil Kemenkumham Sulteng dan Kepala Rutan Klas II A Palu.

Tim Bui Squad beranggotakan 50 orang, semuanya merupakan narapidana yang menjalani masa hukuman paling rendah lima tahun penjara.

"Kami sudah sepakat, membentuk Tim Relawan Bui Squad untuk menyampaikan pesan kemanusiaan untuk saudara kami di Sulteng. Jadi tidak ada sama sekali, adanya niat melarikan diri," ungkap Rifki Sultan, Ketua TIM Relawan Bui Squad saat membagikan bantuan alat air bersih di kemah pengungsian, Rabu (24/10/2018).

Menurutnya, hingga pekan ketiga pascagempa, pihaknya bersama tim sudah melakukan pembagian logistik, serta peralatan air bersih yang di sebar di sejumlah titik pada tiga wilayah yaitu Palu, Donggala, dan Sigi.

Sementara itu, Nanang Rukmana Kepala Rutan Klas II A Palu sangat memberikan dukungan penuh untuk misi kemanusiaan dari narapidana. Pihaknya menyediakan kendaraan yang digunakan sebagai transportasi bagi relawan. 

"Untuk proses rekonstruksi dan rehabilitasi juga dilakukan oleh narapidana, tapi kalo kondisi tanggap darurat kami menyiapkan setiap hari 10-20 orang," ucap Nanang.

Misi kemanusiaan yang dilakukan oleh narapidana, tidak hanya memberikan bantuan logistik, namun juga membantu warga untuk meringankan beban saat mengevakuasi barang milik korban yang tertimbun oleh lumpur ataupun ambruk.