Rabu, 24 Oktober 2018 09:30 WITA

BNNP Sulsel

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Narkoba

Editor: Adil Patawai Anar
Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Narkoba

RAKYATKU.COM - Setiap penyalahguna akan mengalami gangguan mental organik dan gangguan perilaku karena mengkonsumsi narkoba akan mengganggu sistem syaraf neuro transmitter pada
susunan syaraf pusat.

Otak kita adalah organ yang sangat vital, seluruh aktifitas berpikir dan bergerak ( Motorik ) dikendalikan oleh organ tubuh yang satu ini.

Semua jenis narkoba termasuk alkohol dan rokok memberi pengaruh buruk bagi kesehatan tidak hanya menimbulkan kecanduan (Adiksi) tapi menimbulkan ketergantungan bagi penggunanya.

Kondisi ketergantungan inilah yang mengakibatkan pengguna narkoba akan menggunakan narkoba secara terus menerus, disisi lain tubuh kita akan memberi toleransi terhadap efek yang ditimbulkan oleh Narkoba sehingga untuk mendapatkan efek yang sama harus menambah dosis, sementara dosis yang kian bertambah akan menambah beban tubuh kita sampai suatu hari dapat terjadi overdosis (OD).

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Narkoba

Perubahan perilaku pada penyalahguna Narkoba dapat dilihat secara fisiologik maupun psikologik misalnya: pengguna akan menampakkan gejala fisiologik berupa bicaranya cadel, terjadi gangguan koordinasi, cara jalan yang tidak mantap, mata merah dan muka yang memerah sedangkan gejala psikologiknya adalah terjadinya perubahan alam perasaan mudah tersinggung,banyak bicara,lebih emosional,sensitive dan paranoid,terjadinya gangguan gangguan perhatian/konsentrasi, yang terkadang memicu kejadian yang tidak diinginkan.

Jenis Narkoba lain yang marak dikonsumsi saat ini adalah shabu-shabu dan ekstasi, kedua jenis Narkoba ini termasuk Ampethamin yang bersifat stimulansia yakni dapat merangsang kerja otak dan meningkatkan aktifitas tubuh, oleh sebab itu jenis stimulansia ini banyak disalahgunakan oleh pekerja yang ingin bekerja seharian tanpa istirahat,padahal secara alamiah tubuh kita juga membutuhkan istirahat. Makanya para pengguna Narkoba tipe stimulansia ini setelah efeknya berlalu akan tertidur beberapa hari sebagai anti klimaks dari efek “kuat” yang ditimbulkan.

Gejala psikologik yang nampak dari pengguna Narkoba jenis stimulansia berupa shabu-shabu dan ekstasi yakni terjadi agitasi psikomotor (hiperaktif, tidak dapat diam) kondisi ini juga disebut Tripping, adanya rasa gembira yang berlebihan, harga diri yang meningkat, dan terjadinya halusinasi merupakan efek yang dinikmati oleh para penyalahguna Narkoba.

Efek lain yang terjadi secara fisiologis dapat terjadi, jantung berdebar debar, pupil mata melebar, tekanan darah naik, keringat berlebihan, perasaan dingin bahkan dapat terjadi mual dan muntah.

Dari semua ini dapat menjadi pemicu terjadinya kriminal yang lain seperti: terjadinya tawuran antar kelompok, terjadinya kecelakaan lalulintas, perampokan, pencurian bahkan pemerkosan yang juga dipicu oleh penyalahgunaan Narkoba.

Gangguan mental dan perilaku yang ditimbulkan oleh penyalagunaan Narkoba, selain merugikan diri sendiri juga sangat mengganggu kehidupan sosial masyarakat, merusak
kenyamanan dan keamanan masyarakat, dan yang lebih penting adalah dapat menimbulkan kejahatan dan kerawanan sosial.

Oleh karena itu siapapun yang merasa memiliki kepedulian sosial, marilah kita secara bersama sama menciptakan iklim yang tidak memberi ruang pada segala bentuk penyalahgunaan Narkoba, hal ini dapat kita mulai dari kalangan keluarga terdekat kita, dan di lingkungan kerja kita agar lebih waspada karena peredaran gelap Narkoba bisa terjadi dimana saja tanpa mengenal ruang dan waktu.

Oleh karena itu bilamana terjadi hal-hal seperti tersebut diatas maka sebaiknya kita melaporkannya ke IPWL (Instansi Penerima Wajib Lapor) salah satunya adalah BNN Propinsi Sulawesi-selatan.

Oleh: Ishak Iskandar, SKM,M.Kes
BNN Propinsi Sulsel.