Minggu, 21 Oktober 2018 11:42 WITA

Sebut Presiden PKS Sudutkan Jokowi, Tumben Ali Ngabalin Berkomentar Adem

Editor: Abu Asyraf
Sebut Presiden PKS Sudutkan Jokowi, Tumben Ali Ngabalin Berkomentar Adem
Sandiaga Uno bersama simpatisan di Tangerang Selatan, Sabtu (20/10/2018).

RAKYATKU.COM - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohammad Sohibul Iman kembali menyindir pemerintahan Jokowi-JK. Saat mendamping Sandiaga Salahuddin Uno di Tangerang dia menyebut senyum ibu-ibu kurang lebar.

Saat menemui komunitas UMKM di Tangerang Selatan, Sohibul menyebut daya beli masyarakat rendah.

"Kami sangat tahu kondisi perekonomian saat ini semakin sulit, daya beli masyarakat juga semakin rendah, harga-harga makin naik," Sohibul di Adin House, Pamulang, Tangsel, Sabtu (20/10/2018).

"Bapak-ibu sekalian, mudah-mudahan nanti senyumnya semakin lebar kembali. Sekarang saya lihat banyak yang senyumnya kurang lebar," lanjut dia.

Dia lalu menyinggung keberadaan Sandiaga yang menemui warga di tempat itu. Sohibul menyebut warga yang datang bisa tersenyum meski di rumah mereka cemberut pada pasangannya.

"Sehingga yang mungkin di rumah sebetulnya sedang cemberut, di sini bisa senyum lebar. Tapi saya melihat ini senyum lebarnya hanya karena ketemu Bang Sandi, padahal sesungguhnya karena perekonomian yang sulit bapak-ibu sekalian di rumah saling cemberut antara suami dan istri," kata Sohibul lagi.

Pernyataan itu direspons Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin. Namun, tidak seperti biasanya, pernyataan mantan anggota DPR RI itu kini lebih adem.

Menurut dia, diksi tersebut terkesan menyudutkan pemerintah, khususnya Jokowi. Namun, dia yakin pernyataan itu justru mengundang simpati publik.

"Karena apa yang bisa diambil manfaatkan dari komentar mereka, dari ekonomi semakin sulit, bikin suami-istri cemberut. Apa urusannya? Jadi alasan yang tidak logik itu bisa membuat juga PKS kehilangan simpati publik," ujar Ngabalin seperti dikutip dari Detikcom.

Ngabalin meminta PKS menunjukkan data dan fakta soal ucapannya itu. Jika tidak, kata Ngabalin, ucapan Sohibul masuk ke dalam kampanye hitam.

"Kalau tidak menunjukkan fakta artinya black campaign. Kampanye hitam yang sama sekali tak menunjukkan data dan fakta. Kalau tidak menunjukkan fakta dan data, tidak saja negative campaign, tapi black campaign," sebutnya.