Sabtu, 20 Oktober 2018 15:52 WITA

"Saya Tetap Jadi Pelayan Setia Negaraku," Twitter Assiri Usai Dipecat Raja Salman

Editor: Aswad Syam
Jenderal Ahmed Assiri

RAKYATKU.COM, RIYADH - Dituding salah menerjemahkan perintah Putra Mahkota Kerajaan Saudi, Pangeran Mohammed, membuat Wakil Kepala Intelijen Ahmed Assiri, dipecat dari jabatannya. Demikian pula penasihat istana, Saud al-Qahtani.

Sumber di istana Saudi, saat itu Pangeran Mohammed hanya memerintahkan kepada tim yang dibentuk, untuk menangkap Jamal Khashoggi hidup-hidup, dan membawa wartawan Saudi itu ke Riyadh untuk diinterogasi.

Namun kenyataannya, kolumnis Washington Post itu, justru dihabisi di dalam Kantor Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki.

Wakil kepala intelijen Ahmed Assiri dipecat dan akun Twitter-nya, memposting pesan dalam bahasa Arab pada Jumat malam.

"Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Yang Mulia, Penjaga Dua Masjid Suci dan Yang Mulia Putra Mahkota, atas keyakinan besar yang telah mereka tempatkan pada saya, dan untuk kesempatan besar ini untuk menghormati saya. Dengan memberikan tempat di layanan nasional selama beberapa tahun terakhir...," tulisan di postingannya. 

"Aku akan tetap menjadi pelayan yang setia di negaraku untuk waktu yang lama. Dan tanah air kita yang sayang akan tetap tinggi. insya Allah," tambahnya.

Tidak jelas, apakah Assiri mempostingnya sendiri, atau apakah orang lain melakukannya atas namanya.

The New York Times sebelumnya mengatakan, telah berbicara dengan tiga orang yang mengetahui rencana Saudi, yang berkaitan dengan Jenderal Assiri, yang sebelumnya menjabat sebagai juru bicara untuk intervensi militer di Yaman, sebelum dipromosikan ke pekerjaannya saat ini di intelijen.

Assiri adalah orang terdekat yang paling dipercaya Pangeran Mohammed. Demikian pula, Saud al-Qahtani, penasihat istana.

Nama lain yang diberhentikan setelah penyelidikan oleh Kerajaan Saudi, adalah, Mohamed bin Saleh al Rumeh (asisten presiden intelijen umum untuk urusan intelijen), Abduallah bin Khalifa al Shaya (asisten presiden intelijen umum untuk sumber daya manusia), dan Rachad bin Hamed al Muhamadi (direktur departemen umum untuk keamanan dan perlindungan dalam komando intelijen umum).

Sebelumnya, penyelidik Turki sudah melansir 15 orang yang diduga jadi eksekutor Khashoggi. Mereka antara lain, Salah Muhammad al-Tubaigy alias Salah al-Tubaigy (dokter forensik dan bedah mayat), Maher Abdulaziz Mutreb (seorang diplomat yang bertugas di kedutaan Saudi di London pada 2007), Abdulaziz Mohammed Al Hawsawi, Thaar Ghaleb Al Harbi, dan Muhammed Saad Alzahrani. Ketiganya adalah pengawal Pangeran Mohammed bin Salman. 

Juga ada, Meshal Saad M Albost (yang kemudian tewas karena kecelakaan lalu lintas), Mustafa Muhammed M Almadani, Mansour Othman Aba Hussein, Walid Abdullah al-Shihri, Fahad Shabib A Albalawi, Saif Saad Q Alqahtani, Badr Lafi Muhammad al-Oteibi, Nayif Hasan Saad al-Arifi, Khaled Aedh G Altaibi, dan Turki Muserref M Alsehri.

Mereka menghabisi Khashoggi pada Selasa, 2 Oktober 2018, saat wartawan Saudi itu sedang mengurus dokumen perceraiannya di Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul Turki.