Sabtu, 20 Oktober 2018 12:51 WITA

Jaksa Diduga Peras Terdakwa Kasus Korupsi, Ini Kata Kejati Sulsel

Penulis: Himawan
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Jaksa Diduga Peras Terdakwa Kasus Korupsi, Ini Kata Kejati Sulsel
Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Tarmizi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kejaksaan Tinggi Sulsel menepis isu salah satu jaksa yang melakukan pemerasan kepada terdakwa kasus korupsi Sarana Pengolahan Air Minum (SPAM) Sulsel. 

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Tarmizi mengatakan, dua jaksa penuntut umum yakni Adi Haryadi Annas dan Mudazzir yang disebut-sebut memeras salah satu terdakwa korupsi SPAM membantah keras hal itu. 

"Sudah saya klarifikasi itu tidak benar. Saya juga tidak tahu informasinya dari mana karena saya sudah panggil yang bersangkutan," kata Tarmizi.

Tarmizi menambahkan, ia sudah melihat laporan yang menyebutkan jaksa didatangi terdakwa tetapi tidak melihat ada bukti yang memperkuat hal itu. "Saya tanya secara terus terang, dia bilang itu tidak benar semua," bebernya.

Sebelumnya, dugaan pemerasan jaksa kepada terdakwa kasus korupsi mencuat ketika puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Barisan Pemerhati Hukum (Bamper) mendatangi kantor Kejati Sulselbar, Kamis (13/9/2018). 

Aliansi mahasiswa yang terdiri dari beberapa organisasi ini menyebutkan dugaan pemerasan yang dilakukan oleh salah satu jaksa terhadap terdakwa kasus dugaan korupsi Sarana Pengolahan Air Minum (SPAM) Sulsel. 

Beberapa jaksa mendatangi terdakwa sebelum hari penuntutan. Pada malam itu, jaksa tersebut bersama Kepala Seksi Penuntutan mendatangi kediaman terdakwa untuk meminta setoran agar tuntutan hukumannya diringankan mengatasnamakan nama Kajati Sulselbar.

"Oknum JPU mengatasnamakan Kajati mendatangi rumah terdakwa jam 11 malam meminta satu per satu setoran ke terdakwa waktu itu," kata Muallim, Kamis (13/9/2018).

Tidak hanya itu, Muallim juga mengatakan, setelah putusan untuk ketujuh terdakwa dibacakan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri, jaksa tersebut kembali mendatangi beberapa terdakwa dan meminta tebusan karena akan mengajukan banding. Para peserta aksi juga mengklaim memiliki bukti atas kasus tersebut. 

"Waktu ada putusan si jaksa ini mengatakan ada surat Kajati untuk mengajukan banding jika tidak membayar begini. Kami punya bukti, ada chatnya," sambungnya.

Ada tiga nama yang disodorkan oleh para peserta aksi yang diduga meminta sejumlah bayaran kepada terdakwa. Diantaranya ialah Kasi Penunututan, Fajar, dan dua jaksa penuntut umum yakni Adi Haryadi Annas dan Mudazzir.